FOGGING secara luas dianggap merupa­kan solusi penanganan Demam Berdarah De­ngue (DBD) oleh masyarakat. Padahal menilik kemanfaatannya, upaya tersebut hanya bersifat mematikan nyamuk dewasa, tidak membunuh jentik nyamuk yang terdapat di genangan air.

Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bartim mengajak masyarakat tidak menggantungkan upaya pe­nanggulangan demam berdarah dari program pengasapan tersebut, melainkan lebih menekannya melalui peran aktif pribadi menjaga kebersihan lingkungan sekitar dari potensi perkembangbiakan jentik nyamuk.

Kepala Seksi Penanggulangan Penyakit Dinkes Bartim Vonny Iramayesti, Rabu (6/1/2016) menga­takan, pelaksanaan fogging bukan langkah paling ampuh memerangi perkembangbiakan nyamuk. Pasalnya disamping memakan biaya yang tidak sedikit, juga harus melalui sejumlah tahapan dan prosedur terlebih dahulu.

“Fogging hanya bersifat meredam tingginya pertumbuhan nyamuk dewasa melalui pemberantasan sebagian besar vektor infeksi dengan cepat, sehingga rantai penularan dapat segera diputuskan.”

Menumbuhkan motivasi masyarakat dalam memerangi demam berdarah, sambung Vonny, sejak musim penghujan di akhir tahun lalu pihaknya melalui petugas puskesmas yang tersebar di sepuluh kecamatan telah proaktif menyosialisasikan masyarakat untuk meme­rangi perkembangbiakan nyamuk melalui pelaksanaan program 3M, yakni menutup rapat bak mandi supaya nyamuk tidak bersarang, menguras bak mandi minimal satu minggu sekali, serta menimbun kaleng atau wadah kosong lainnya yang dianggap berpotensi menjadi sarana genangan air.

“Kami juga mengajak masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan jalan menjaga kualitas lingkungan dan memelihara keseha­tan priba­di,” tandasnya.

Melalui langkah tersebut, pihaknya berharap kasus DBD mampu ditekan sehingga kualitas kesehatan mampu mendukung produktivitas kerja dan menunjang aktivitas sehar-hari.
(Tbs/B-5)