PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala UPT Pusat Kesehatan Hewan atau Puskeswan Palangka Raya, drh Eko Hari Yuwono mengatakan bahwa untuk mendeteksi apakah benar sapi yang diduga tertular virus penyakit mulut dan kuku atau PMK mengidap penyakit tersebut, maka harus melewati pemeriksaan laboratorium.

"Karena gejala klinis PMK mirip dengan beberapa penyakit vesikuler, maka konfirmasi laboratorium sangat diperlukan," kata drh Eko pada Rabu, 15 Juni 2022.

Setiap ada hewan sakit dengan gejala klinis yang berhubungan dengan adanya lesi, lebih pada mukosa mulut atau kuku, lanjut drh Eko, harus segera dilaporkan.

"Deteksi antigen PMK dapat dilakukan dengan ELISA atau CFT. Sedangkan isolasi virus dilakukan dengan kultur jaringan," tuturnya.

Spesimen untuk diagnosis PMK, lanjut drh Eko, meliputi cairan lepuh, atau jaringan di sekitarnya, darah juga perlu diambil.

--page

"Cairan esophagus-laring perlu juga diambil dan dimasukkan dalam botol steril dengan menggunakan larutan 0,04 M phosphate buffer. Specimen segera dikirim ke laboratorium dalam keadaan segar dingin. Apabila tidak memungkinkan dapat dikirim dalam keadaan beku," papar Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia atau PDHI Provinsi Kalimantan Tengah ini.

Untuk pemeriksaan secara histopatologis, lanjutnya, spesimen yang diambil adalah limfaglandula, tyroid, ginjal, limpa dan jantung dalam larutan formalin buffer 10%. (TESTI PRISCILLA/B-7)