BAWANG merah merupa­kan salah satu komodi­tas holtikultura yang ba­nyak dibudidayakan peta­ni­, karena komoditas ini me­mi­liki nilai ekonomi cukup tinggi, sehingga tak heran ji­ka banyak yang tertarik un­tuk mengembangkan.

Kasi Seksi Pengembangan­ Tanaman, Buah, dan Sayuran­ Distantura Kapuas, Teguh Set­yo Utomo menjelaskan selain mengembangkan tanaman cabe rawit merah dan cabe me­rah, pada 2016 pihaknya juga akan mengembangkan ta­naman bawang merah di de­lapan kecamatan.

“Luas lahan yang disiapkan­ 25 hektare tersebar di 26 de­sa dengan target produksi 175 ton. Jadi satu desa per ke­lompok tani minimal harus­ menanam 1 hektare dan mak­simal 5 hektare,” katanya.

Dijelaskan, tujuan pengembangan bawang merah yang didanai dari APBN ini untuk mengantisipasi melonjaknya harga di pasaran.

Program ini akan didukung Bank Indonesia (BI) melalui program coorporate social responcibility (CSR) dengan memberikan fasilitasi pelatih­an manajerial kepada peta­ni.

“Cuma pelatihan yang difa­silitasi BI tidak dilaksanakan diseluruh kecamatan, tapi cukup perwakilannya saja yang dilatih soal manajemen kelompok tani, manajemen keuangan, dan cara budidayanya,” tuturnya.

Sedangkan tugas Pemkab Kapuas hanya akan memban­tu bibit, pupuk, dan lainny­a. Dananya pun berasal dari APBD 2016, bukan dari Pemkab Kapuas.

 Teguh mengatakan program pengembangan bawang­ ini untuk meningkatkan sum­ber daya petani melalui sekolah lapang.

“Nanti ada beberapa kelom­pok tani mengikuti sekolah­ lapang. Biasanya dalam seko­lah lapang ada 10 kali per­temuan dan kurikulumnya­ mulai dari persiapan perbenih­an sampai panen.”

Program budidaya bawang ini diharapkan bisa berkem­ba­ng, karena komoditas ini punya nilai ekonomis tinggi. Se­lain itu lahan di Kapuas ma­sih luas, sehingga sangat co­cok untuk dikembangkan le­bih luas lagi. (B-6)