PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia atau PDHI Provinsi Kalimantan Tengah, drh Eko Hari Yuwono mengatakan bahwa diagnosis penyakit mulut dan kuku atau PMK memerlukan konfirmasi laboratorium.

"Karena gejala klinis PMK mirip dengan penyakit vesikuler seperti vesicular stomatitis, swine vesicular disease, vesicular exanthema, rinderpest, dan malignant catarrhal fever, maka konfirmasi laboratorium sangat diperlukan," kata drh Eko pada Kamis, 16 Juni 2022.

Setiap ada hewan sakit dengan gejala klinis yang berhubungan dengan adanya lesi, lanjut drh Eko, lebih pada mukosa mulut atau kuku harus segera dilaporkan.

"Sebagai diagnosis banding, lesi-lesi yang timbul berupa lepuh-lepuh pada mukosa mulut, lidah, kuku, ambing sulit untuk dibedakan dengan lesi-lesi yang terjadi akibat penyakit penyebab timbulnya lepuh lainnya seperti vesicular stomatitis, swine vesicular disease, esicular exanthema, rinderpest dan malignant catarrhal fever," tuturnya.

Karena itu menurut Kepala UPT Pusat Kesehatan Hewan atau Puskeswan Kota Palangka Raya ini, cara terbaik ialah mengujinya di laboratorium.

--page

"Deteksi antigen PMK dapat dilakukan dengan ELISA atau CFT. Sedangkan isolasi virus dilakukan dengan kultur jaringan," katanya lagi. (TESTI PRISCILLA/B-5)