BORNEONEWS, Palangka Raya - Berikut ini adalah prosesi sunat atau dalam bahasa Dayak Bakumpai disebut Basunat zaman dahulu bagi orang Bakumpai dan Banjar, seperti dikutip dari Folks Of Dayak, komunitas anak-anak muda pemerhati dan pelestari budaya adat Dayak.
Ketika seorang anak laki-laki sudah berusia 10 sampai 12 tahun maka orang tuanya akan menyunat anaknya tadi. Tidak seperti jaman sekarang dimana orang bisa dengan mudah pergi ke dokter atau rumah sakit untuk disunat.
Pada zaman dahulu harus disediakan syarat adat atau disebut “piduduk” dan seekor ayam jantan dan uang satu rupiah (pada zaman itu) yang akan diberikan kepada tukang sunat.
Ayam jantan tadi digunakan sebagai anestesi Dayak pada masa lalu atau sebagai pengganti sakit, jadi rasa sakit Ketika disunat akan ditransferkan kepada ayam jantan tadi, sehingga anak-anak yang disunat tidak merasakan sakit sama sekali.
Hari yang dianggap baik untuk disunat adalah hari selasa pagi, sebab hari itu dianggap sebagai hari yang baik untuk "bebuang darah" atau dalam kontek sekarang “operasi”.
Jadi anak-anak yang akan disunat tadi harus bangun pagi-pagi sekali kemudian berendam sebatas pinggang didalam air yang ditaruh didalam sebuah perahu atau ada juga yang disungai, berjam-jam lamanya.
--page
Tujuan berendam ini adalah untuk mendinginkan kemaluannya supaya mengkerut sehingga ketika disunat tidak begitu banyak darah yang keluar.
Setelah siang, maka anak-anak tadi akan dipakaikan semacam gelang dan lawung yang dililitkan tanpa boleh menutup kepalanya, sebab diyakini jika lawung tadi sampai menutup kepala, maka setelah sembuh kulit kemaluan (kulup) bisa Kembali tertutup, kemudian ia menggunakan semacam tapih bahalai separuh badan saja tanpa mengenakan pakaian.
Kemudian masyarakat akan berkumpul kemudian melakukan acara selamatan: batumbang dan bahalarat yakni doa selamat. Anak-anak yang akan disunat disuruh terlebih dahulu makan apa yang disediakan seperti apam, ketupat atau apa saja yang disukainya – sebab setelah disunat ia akan berpantang makanan seperti ikan, masakan gulai, telur, kue yang bergula dan sebagainya hampir sama saja dengan pantangan wanita yang melahirkan.
Sebab diyakini jika memakan makanan yang bergula maka kalua berdarah akan banyak keluar darahnya, makan telur dapat membuat bengkak kemaluan, makan daging kalau sembuh akan “dagingan”, telangkah kotoran ayam bisa membuat busuk kemaluan, makan udang bisa membuat gatal dan sebagainya.
Setelah selesai makan, maka barulah si anak tadi duduk diatas sebuah kasur dan tempat duduknya dilapisi dengan upih pinang yang sudah ditusuki abu.
Ia kemudian bersandar kepada orang tua sambil sambil menjaga kalau kalau anak tadi siup. Maka barulah prosesi sunat dilakukan, tukang sunat akan membuka sarung anak tadi, ia akan membuka kulit kemaluannya lalu menaruh ujung besi untuk menarik kulit kemaluan anak tadi dan kemudian dijepit dengan menggunakan sebuah alat, kemudian barulah ia menyayat kulup anak tadi dengan arah miring ke bawah jadi kulit kemaluan bagian bawah tidak teriris – inilah metode sunat orang jaman dahulu berbeda dengan jaman sekarang di mana semua kulit kemaluan di sekeliling kepala penis dibuang habis.
Sesudah selesai disayat tadi maka lukanya diberi obat tradisional ada yang berupa abu bakaran bulu kucing ada juga yang menggunakan kuning telur – berbagai macam cara pengobatan sesuai pengetahuan sang tukang sunat.
Setelah prosesi sunat tadi barulah orang-orang disajikan makanan. Malam harinya orang berjaga-jaga diisi dengan hadrah atau sambil bercerita sambil menjaga orang yang disunat. Yang disunat tidur tanpa menggunakan kelambu sambil dijaga oleh sanak saudaranya. (TESTI PRISCILLA/B-6)









