PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Tanah di sini masih hijau, ditutupi oleh rerumputan dan dedaunan pakis yang menjulur. Cahaya matahari bersaing menembus ribuan daun pohon yang menjulang tegak dengan kokohnya seolah-olah mengejek cahayanya yang tampak putus asa menembus barisan perisai hijau itu. 

Di dekat situ ada danau tenang yang permukaan airnya dilapisi oleh daun teratai yang lebar. Air danau itu berwarna merah jernih, warna yang diberi akar-akaran pohon yang berendam di tepi danau itu. 

Walaupun pasirnya berwarna hitam tidaklah membuat suram pemandangan karena sekelompok barisan pohon kelapa muda tumbuh subur di atasnya. Tidak jauh di seberang danau, menjulang megah bukit hijau ditumbuhi oleh bermacam jenis pohon. 

Di sanalah tempat Ranying Mahatalla menciptakan manusia. Leluhur menyebut bukit itu Gunung Lumut.

Dikutip dari Folks Of Dayak, komunitas anak-anak muda pemerhati dan pelestari budaya adat Dayak, itulah tanah hijau Nansarunai, negeri tempat tinggal tiga sahabat yakni Wawahiyang, Wunge, dan Hungei. 

Mereka sudah berteman sejak kecil yaitu ketika orang tua mereka diculik oleh Raja Hantuen yang jahat. Sekarang Damang Riwut lah yang mengasuh mereka, pemimpin negeri Nansarunai yang sudah sangat tua. 

Damang Riwut itu pemimpin yang bijak dan berani. Dia selalu pantang menyerah melindungi Nansarunai dari Usak Raja Hantuen.

Sejak pohon Buah Pahingen tumbuh menggantikan pohon Batang Garing, Raja Hantuen leluasa sekali mengusik penduduk dan menculik jiwa mereka untuk dijadikan Jipen, tawanan budak untuk membangun negeri Raja Hantuen yang terbuat dari emas bernama Bukit Bulau.

--page

Nansarunai yang hijau sedang terancam! Raja Hantuen berencana untuk melenyapkan negeri itu dari muka bumi dan mengubahnya - begitu pula Gunung Lumut-menjadi Bukit Bulau.

Damang Riwut bercerita kepada Wawahiyang, Wunge, dan Hungei bahwa tujuh belas tahun yang lalu ayah dan ibu mereka mendapat tanda dari burung Antang saat mereka sedang berburu rusa di hutan. 

Tiga burung Antang terbang mengelilingi pohon yang sangat besar di tengah hutan. Pohon itu bernama Batang Pusi, tempat tinggal Roh Jumpun. Sejak dahulu, di dekat Batang Pusi, penduduk Nansarunai menyimpan sebuah guci besar putih berisi air.

Menurut Tetek Tatum, ramalan suci turun-temurun, Ranying Mahatalla akan memilih tiga kesatria untuk melempar gunung malapetaka ke dalam lautan api. 

Kemunculan tiga kesatria itu ditandai oleh mekarnya tiga teratai di dalam guci dan munculnya tiga burung Antang dari balik Batang Pusi. Sudah berpuluh generasi menanti dengan sabar tanda-tanda ini. Namun, baru itulah pertama kalinya ramalan Tetek Tatum menjadi kenyataan.

Demi melihat burung Antang sedang terbang mengelilingi Batang Pusi, mereka bergegas menghampiri Batang Pusi untuk melihat ke dalam guci. Ternyata di dalamnya telah mekar tiga bunga teratai merah yang indah. 

Tanpa berpikir panjang, dengan penuh semangat, cepat-cepat mereka pergi menemui Damang Riwut untuk menyampaikan apa yang terjadi di Batang Pusi itu.

“Akhirnya Tetek Tatum digenapi pada generasi kita”, kata Damang Riwut. Terlihat dari matanya kelegaan yang luar biasa. Damang Riwut pun mengutus Ayah Wawahiyang, ayah Wunge, dan ayah Hungei untuk mengambil api Kaharingan. 

Menurut Tetek Tatum, api Kaharingan adalah kekuatan Ranying Mahatalla yang mampu mengalahkan kekuatan Raja Hantuen. Pada Hari Penciptaan, ketika Ranying Mahatalla membuat Raja Tuntung Matanandau bersinar, Ranying Mahatalla menyebarkan cahayanya keempat penjuru bumi dan menyimpannya dalam bentuk kobaran api abadi. 

Kala keempat kobaran api itu disatukan, ia akan menjadi api Kaharingan yang kobarannya mampu menghancurkan segala bentuk kejahatan dan membebaskan Nansarunai dari kekuasaan Raja Hantuen.

Api yang pertama disimpan Ranying Mahatalla di atas bukit Olympus di negeri Athena. Api yang kedua disimpan di hulu sungai Gangga di negeri Krishna. Api yang ketiga disimpan di sekuntum bunga musim semi di negeri Tao. 

--page

Untuk api yang keempat, tak seorang pun yang tahu dimana ia berada. Ranying Mahatalla merahasiakan tempatnya. Pada waktu Damang Riwut mengutus ayah Wawahiyang, ayah Wunge, dan ayah Hungei untuk pergi mengambil api Kaharingan, ternyata kabar itu sampai pula ke telinga Raja Hantuen. 

Raja Hantuen berencana untuk menggagalkan misi ketiga pemuda itu supaya apa yang diramalkan dalam Tetek Tatum tidak terjadi. Maka ia mengutus Tuntin yang licik untuk menghadang mereka di tengah jalan. Tuntin menyamar sebagai orang tua bijaksana yang menawarkan batu Batuah.

“Dengan batu ini kalian tak perlu pergi mencari api Kaharingan”, kata Tuntin dengan bijak. “Batu Batuah ini jika digabungkan dengan Batang Garing akan mampu menguras habis kekuatan Raja Hantuen”, lanjut Tuntin dengan licik meyakinkan ketiga pemuda itu.

Mereka yang seharusnya pergi mengambil api Kaharingan, dimakan oleh bujuk rayu Tuntin. Lantas mereka berencana kembali ke Nansarunai untuk menaruh batu Batuah ke dalam guci Batang Garing. 

Batang Garing adalah pohon pemberian Roh Jumpun yang ditanam di dalam guci dan ditaruh ditengah negeri Nansarunai untuk melindunginya dari pasukan Kuyang Raja Hantuen.

Sementara itu, negeri Nansarunai ternyata lagi diliputi suasana mencekam karena Raja Hantuen tiba-tiba menyerang Nansarunai. Damang Riwut dan ksatria Nansarunai kewalahan menghadapi pasukan Raja Hantuen yang disebut Kayau. 

Kayau adalah makhluk ciptaan Raja Hantuen yang disebut “Haramaung Batolang Buno, Balikur Talawang”, kepalanya seperti kepala harimau hitam dengan gigi-gigi yang tajam. Badannya yang hitam berbulu berlapis baju perang dari besi.

Maka berperanglah ksatria Nansarunai dipimpin oleh Damang Riwut dengan gagah berani bersenjatakan Mandau dan bantuan Roh Jumpun melawan pasukan Kayau Raja Hantuen.

Ketika Damang Riwut sibuk berperang dengan Kayau, pelayan Raja Hantuen yang lain, yang disebut Kuyang, pergi ke rumah-rumah penduduk. Tetapi Kuyang tidak dapat masuk ke rumah penduduk karena negeri itu dilindungi oleh Batang Garing.

Akhirnya sampailah ketiga pemuda tadi di Nansarunai. Setelah menyadari bahwa Nansarunai sedang diserang oleh Kayau, bergegaslah mereka menuju Batang Garing. 

Persis seperti yang dikatakan orang tua bijak yang sebenarnya adalah Tuntin yang licik, ditaruhlah batu Batuah itu di dalam guci. Seketika, tumbanglah Batang Garing itu dan muncullah pohon lain menggantikannya. Ternyata batu Batuah adalah biji pohon Buah Pahingen. 

Maka sekonyong-konyong hilanglah perlindungan Roh Jumpun untuk negeri Nansarunai sehingga Kuyang leluasa bebas masuk ke rumah-rumah penduduk dan menculik mereka, sementara Damang Riwut dan ksatria Nansarunai sedang sibuk memerangi Kayau.

Kuyang mengambil ibu Wawahiyang, Wunge, dan Hungei. Juga semua pemuda dan pemudi Nansarunai, Kuyang hanya menyisakan anak-anak kecil, orang-orang tua, dan orang sakit. Ayah Wawahiyang, Wunge dan Hungei berusaha untuk merobohkan pohon Buah Pahingen itu, tapi tidak berdaya apa-apa. 

--page

Alih-alih, saat mereka mencoba menebas pohon Buah Pahingen dengan Mandau, seketika mereka menghilang dan langsung pergi ke Kereng Tataban Kilat, tempat orang-orang ditawan oleh Raja Hantuen. Begitulah, siapa saja yang berusaha menyentuh pohon Buah Pahingen akan langsung menjadi tawanan Raja Hantuen.

Sementara itu di medan perang, Damang Riwut dan ksatria Nansarunai berhasil memukul mundur pasukan Kayau. Namun, ketika mereka kembali ke Nansarunai, mereka menangis dengan hebat dan mencucurkan air mata karena melihat Nansarunai sudah dalam keadaan rusak dan sunyi senyap. 

Pohon Batang Garing telah tumbang, tangisan anak-anak, bayi, dan orang-orang tua terdengar di mana-mana. Damang Riwut tahu, ayah Wawahiyang, Wunge, dan Hungei telah gagal. Kegagalan mereka menjadi cerita kelam Nansarunai sampai hari ini.

Kini, setelah tujuh belas tahun berlalu sejak peristiwa itu, Damang Riwut bertekad untuk menjaga Wawahiyang, Wunge, dan Hungei dan memersiapkan mereka untuk misi mencari api Kaharingan karena hanya api Kaharinganlah satu-satunya harapan yang tersisa bagi Nansarunai.

Sebaliknya Raja Hantuen sedang membuat rencana jahat untuk menghancurkan Nansarunai dan mengubahnya menjadi Bukit Bulau, supaya apa yang diramalkan dalam Tetek Tatum tidak bisa digenapi selama-lamanya.

Dengan bantuan Roh Jumpun dari Batang Pusi, Damang Riwut membuka portal ke tiga negeri. Damang Riwut mengubah batu besar di kaki Gunung Lumut menjadi gua Liang Saragih, itulah jalan masuk ke negeri Athena; Damang Riwut pun mengubah akar Pohon Pusi menjadi pintu, itulah jalan masuk ke negeri Krishna; dan terakhir, Damang Riwut mengubah daun teratai dari danau menjadi sumur Malawen, itulah jalan masuk ke negeri Tao. Wawahiyang pergi ke negeri Athena, Wunge pergi ke negeri Tao, dan Hungei pergi ke negeri Krishna. 

Damang Riwut berpesan pada mereka agar fokus kepada misi mencari api Kaharingan, tidak tergoda oleh bujuk rayu siapapun karena bisa saja mereka itu penjelmaan Tuntin yang licik yang sedang menyamar. Terakhir Damang Riwut memeluk mereka bertiga seraya meneteskan air mata berkata, “Dengarkan suara hati nuranimu dan kembalilah ke Nansarunai”.

Wawahiyang sampailah di negeri Athena di bukit Olympus, ia terpukau melihat bukit Olympus yang megah bagaikan batu berukir yang besar sekali. Di puncaknya berdiri kuil dengan tiang-tiang batu yang besar. 

Wawahiyang masuk ke dalam kuil dan melihat ada patung manusia yang tinggi besar terbuat dari batu putih. Di telapak tangan patung itu ada bintang yang menyala-nyala. 

Wawahiyang tidak tahu bagaimana mengambil bintang tersebut dari telapak tangan sang patung. Namun, tiba-tiba dari balik kaki sang patung muncul Oracle, manusia berjubah ungu.

“Hai anak muda, apakah kamu datang ke negeri Athena untuk mengambil api Sophia?”, tanya Oracle kepada Wawahiyang. Kemudian Oracle mengambil dua buah kotak dan berkata, “Sebelum kamu diizinkan pergi membawa api Sophia, hai anak muda, lihatlah pada kotak Pandora ini; pilihlah: kekuatan untuk memaafkan atau kekuatan untuk menguasai”.

Wawahiyang berpikir sejenak. Ia tahu benar Raja Hantuen pasti memiliki kekuatan untuk menguasai sehingga ia bisa mengusik Nansarunai. Seandainya Wawahiyang yang memiliki kekuatan itu, maka dialah yang akan menjadi penguasa, bahkan bisa mengalahkan Raja Hantuen. 

--page

Tapi kemudian Wawahiyang menjadi sadar, kekuasaan yang dimiliki Raja Hantuen telah membuat ia gelap mata, tidak pernah merasa puas dan ingin menaklukkan yang lain. Wawahiyang ingat pesan Damang Riwut untuk mendengarkan suara hati nurani sendiri. 

Akhirnya, Wawahiyang memutuskan memilih kotak Pandora yang berisi kekuatan untuk memaafkan. Oracle membuka kotak Pandora pilihan Wawahiyang. Di dalamnya terdapat obor terbuat dari gading. 

Wawahiyang memegang obor tersebut dan tiba-tiba berkobarlah api berwarna biru. Kemudian, dengan api itu Wawahiyang kembali ke Nansarunai.

Ternyata, di Nansarunai sudah tiba pula Wunge dan Hungei, masing-masing dari negeri Krishna dan negeri Tao membawa api mereka. Tetapi, sekarang mereka menjadi bingung dengan api keempat karena Ranying Mahatalla tidak memberitahu dimana tempatnya. 

Damang Riwut yang bijaksana tiba-tiba terbuka pikirannya dan menyadari bahwa api yang keempat itu sebenarnya berada di dalam diri Wawahiyang, Wunge, dan Hungei, karena merekalah kesatria yang dipilih oleh Ranying Mahatalla untuk membawa api Kaharingan.

Tanpa berpikir panjang, Damang Riwut membawa Wawahiyang, Wunge, dan Hungei ke Batang Pusi. Sementara itu Raja Hantuen dan pasukannya mulai menyerang Nansarunai. 

Raja Hantuen ingin merobohkan Batang Pusi dan mengubah Gunung Lumut menjadi Bukit Bulau, tetapi usahanya dihadang oleh penduduk dan ksatria Nansarunai. Dengan sekuat tenaga dan nyawa mereka melindungi Nansarunai. Tapi apa daya, mereka malah semakin terdesak dan kalah hebat dari pasukan Kayau dan Kuyang Raja Hantuen.

Akhirnya Raja Hantuen berhasil menaklukkan Gunung Lumut. Pasukan Kayau kini sedang bergerak menuju Batang Pusi untuk merobohkan dan membunuh Roh Jumpun. 

Sementara itu, Damang Riwut, Wawahiyang, Wunge, dan Hungei sudah tiba di Batang Pusi. Saat mereka bertiga mendekat ke guci putih, tiba-tiba ketiga bunga teratai di dalam guci itu menyala. Itulah api yang keempat.

“Api Kaharingan akan menjauhkan kematian dan memberikan Nansarunai kehidupan, jadilah demikian!!”, Teriak Damang Riwut mengucapkan doa seraya memerintahkan Wawahiyang, Wunge dan Hungei melemparkan api mereka ke dalam kobaran api yang keempat. 

Dari situ lahirlah api Kaharingan yang sudah ditunggu berabad-abad. Segeralah api Kaharingan berkobar dan membakar habis pasukan Kayau dan Kuyang. Raja Hantuen pun tidak tahan akan panasnya api Kaharingan dan berusaha melarikan diri. Namun api Kaharingan mengejarnya sampai ke Bukit Bulau. 

Di sana api Kaharingan membakar habis Bukit Bulau sampai semua emas Raja Hantuen meleleh dan ditelan Bumi. Api Kaharingan juga membebaskan para Jipen dan mengembalikan mereka ke Nansarunai.

Sampai hari ini api Kaharingan masih terus berkobar. Selama api Kaharingan berkobar, Raja Hantuen tidak akan pernah bisa mengusik Nansarunai lagi. (TESTI PRISCILLA/B-6)