Warga di tiga desa wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara mengalami krisis air bersih akibat letusan Gunung Soputan, baru-baru ini. Tiga desa itu antara lain Desa Pangu, Desa Pangu Satu, dan Desa Pangu Tiga.
Kasie Rehab Rekon Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minahasa Tenggara Erick Manairoisong mengungkapkan, salah satu sumber air bersih yang mengalir ke tiga desa tersebut terdampak abu vulkanik akibat letusan Gunung Soputan.
“Ini karena bak penampung air milik warga ini tak tertutup, abu langsung mencemari sumber air sehingga warna air berubah menjadi kecoklatan dan tak layak untuk dikonsumsi,” papar Erick di Ratahan, Rabu (06/1/2015).
Sementara itu, warga Desa Pangu Rina Saweho mengaku warga memang mengalami kesulitan dalam memperoleh air bersih. Ia membeberkan, air keran desa sudah bercampur lumpur debu Soputan, tidak bisa lagi digunakan.
“Jangankan untuk masak, untuk mencuci juga sudah tidak bisa,” tutur Rina Saweho.
Dirinya menambahkan, sumber air alternatif yang berasal dari sumur-sumur yang ada di rumah, kondisinya tidak jauh berbeda dengan air yang berasal dari penampungan.
“Kami tidak sempat menutup sumur di saat semburan debu terjadi, soalnya kejadian datang tiba-tiba,” ujar Rina.
Butuh bantuan
Kepala Desa Pangu Jafry Kawulusan mengaku sejauh ini pasokan air bagi masyarakat di tiga desa tersebut bersumber mata air yang sama di pegunungan kawasan Hutan Rangkuli.
“Makanya saat ini kami sangat berharap bantuan air bersih dari siapa saja yang bisa membantu warga,” kata Jefry.
Bupati Minahasa Tenggara James Sumendap yang meninjau lokasi sumber-sumber air milik warga mengimbau agar warga tidak mengonsumsi air yang telah tercemar.
“Saya mengimbau warga jangan dulu mengonsumsi air sumur atau air dari keran. Ini berbahaya nanti kita akan pasok air bersih untuk memenuhi kebutuhan air hingga kualitas air sumur dan air keran warga sudah normal,” ujar James.
(Ant/B-12)








