Banjir melanda delapan desa di Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng. Bencana ini cukup mengejutkan warga karena Arut Utara berada di hulu yang merupakan dataran tinggi. Data sementara, satu warga ditemukan tewas dan ribuan warga lainnya mengungsi.

Menurut Camat Arut Utara Marwoto, kuat dugaan banjir yang melanda wilayahnya akibat aktivitas pembersihan lahan (land clearing) yang dilakukan perusahaan hutan tanaman industri (HTI) PT Korintiga Hutani. Perusahaan asal Korea ini telah mengubah banyak hutan-hutan yang selama ini menahan air hujan menjadi kebun kayu monokultur dengan tanaman Eucalyptus.

"Musim hujan ini kan kita sama tahu, apabila lahan itu di land clearing maka dia (tanah) tidak akan bisa mengikat air, otomatis air itu akan mengumpul semua ke bawah dan menyatu dan menjadi satu aliran masuk ke sungai," kata Marwoto kepada <Borneonews> usai rapat gabungan penanganan bencana banjir di Kantor Pemkab Kobar, Kamis (7/1/2015).

Kondisi itu, kata Marwoto, menyebabkan lonjakan debit air sungai dan akhirnya meluap ke pemukiman warga. Kondisi paling parah dialami Desa Penahan. Hutan di desa tersebut sudah berganti seluruhnya dengan tanaman monokultur Eucalyptus yang ditanam oleh PT Korintiga Hutani. (AL/B-8)