KETIKA hujan deras mengguyur kawasan ibu kota Kalteng, menjadi kebiasaan yang terulang di beberapa ruas jalan ditumbuhi genangan air. Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya tidak mau disalahkan.
Tudingan justru mengarah pada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng karena salah satu dinasnya tidak merespon dengan baik masalah di lapangan yang menjadi kewenangananya.
Seperti diungkapkan Wakil Walikota Palangka Raya Mofit Saptono Subagio. Alasannya, yang menjadi langganan genangan air atau yang disebutnya floading, itu mayoritas berada di jalan yang menjadi kewenangan Dinas
Pekerjaan Umum (DPU) Provinsi Kalteng sehingga seharusnya pula juga mengurusi drainasenya. Meski demikian, banyak tudingan diarahkan kepada kinerja walikota dan wakilnya.
“Kita tetap perhatikan, mulai sebelum masuk musim hujan kemarin sudah komunikasi dengan DPU Kalteng. Sebab lokasi yang floading itu kan itu-itu saja. Saya tahun kemarin saja itu sudah cek di SMPN 8 Jalan Temanggung Tilung yang selalu tergenang. Persoalannya sudah jelas, yaitu air harus mengalir kemana, lalu domain siapa. Tapi nyatanya sekarang masih tergenang lagi,” protes Mofit, Kamis (7/1).
Kondisi Kota Palangka Raya dengan banyak genangan usai hujan menurut Mofit, adalah kondisi yang setiap tahun terjadi. Ada tiga hal menjadi sebabnya. Pertama, banjir terjadi akibat curah hujan sangat tinggi. Sebab kedua, koneksitas drainase secara general harus dikoreksi namun faktanya belum dilakukan.
Mengenai koneksitas ini, sambung Mofit, ada drainase yang memang domain DPU Provinsi dan ada yang menjadi urusan Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Perumahan (Disciptarum) dan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BM-SDA) Kota Palangka Raya.
“Apabila tidak ada sinergitas, mustahil kondisi ini bisa diatasi. Pemkot tidak keberatan kalau memang ditugaskan untuk mengurangi beban drainase-drainase itu, tapi dengan dana-danany dong. Jangan kalau sudah banjir, ngomongnya ke wali kota dan wakil,” ketus dia.
Kesal dengan Warga
Sebab ketiga menurut mantan dosen ini adalah apatisme warga terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya sehingga menyebabkan genangan menjadi-jadi.
“Dan sebab ketiga atau yang terkahir, saya minta kepada masyarakat Kota di lingkungan masing-masing, tolong perhatikan drainase lingkungannya, mulai dari Lurah, RT dan masyarakat di rumah-rumah. Masa rumput dan material di parit depan rumah sendiri tidak disingkirkan. Harus menelpon Walikota dan wawali untuk minta Disciptarum membereskan. Yang benar saja.”
(RZ/B-12)


