BANJIR di Kabupaten Lamandau kian meluas. Hingga Jumat (8/1) kemarin, ratusan rumah warga di sembilan desa berbagai kecamatan terendam banjir.

Tak hanya desa-desa di bantaran sungai, sejumlah daerah di perkotaan pun kini mulai tergenang banjir.

Dikhawatirkan, jika intensitas hujan di hulu sungai masih tinggi, banjir akan semakin parah.

Data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, tercatat ada 226 rumah warga di beberapa desa terendam.

Antara lain, Desa Sungai Tuat, Nanga Palikodan, Sungai Mentawa, UPT Bayat, Bunut, Kelurahan Nanga Bulik, Desa Kujan, Guci dan Batu Kotam.

“Dari data petugas di lapangan, ada 226 rumah tergenang air, dengan ketinggian variatif. Jumlah terbanyak ada di Kelurahan Bulik sebanyak 50 rumah, Batu Kotam 45 rumah dan Sungai Mentawa 40 rumah,” kata Kasi Logistik BPBD Lamandau, Cahyono, kemarin.

Sementara itu, informasi salah satu warga Desa Sungai Mentawa, Bendri, disebutkan sejak meluapnya air Sungai Lamandau warga di sana sangat kesulitan beraktivitas. Akses darat yang biasa dilewati terputus.

Bendri yang bekerja di daerah perkotaan sudah dua hari terpaksa tidak pulang ke rumah dan memilih menginap di Nanga Bulik.

“Akses darat (ke Sungai Mentawa dari Nanga Bulik) putus, harus pakai klotok atau sampan, kalau tidak ya bisa lewat jalur lain dengan jarak yang sangat jauh,” sebutnya.

Di hari-hari pertama banjir Minggu (3/1) lalu, dirinya sempat terjebak dikampungnya. Namun kala itu air yang menggenangi akses darat baru setinggi pinggang orang dewasa.

“Untuk memilih akses darat ke kota Nanga Bulik dengan menggunakan kendaraan saat ini harus berputar ke jalur lain, jika biasanya ditempuh 30-40 menit, maka dengan jalur lain yakni ke arah simpang Ketek maka harus ditempuh dua jam lebih,” ungkapnya.(B-11)