Banjir yang kian parah terus melanda sepuluh dari sebelas desa/kelurahan di Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng). Ketinggian air akibat luapan kawasan hulu Sungai Arut ini, pada Jumat (8/1/2016), semakin tinggi dan terus menggenangi sekitar 450 rumah warga.

Wartawan //Borneonews// dari lokasi banjir melaporkan, salah satu yang terparah adalah Kelurahan Pangkut, khususnya wilayah RT 1. Ketinggian banjir mencapai sekitar tiga meter dan ribuan warganya terpaksa mengungsi.
Lurah Pangkut, Thomas Nasir, menyebut, tiga hari terakhir ketinggian banjir di kelurahannya terus bertambah. Berkisar antara 30 sampai 40 sentimeter (cm) per hari. Banjir menggenangi ratusan rumah warga di lima rukun tetangga (RT).

“Saat ini kira-kira ada 200-an rumah dengan 500-an kepala keluarga yang terendam banjir,” kata Nasir, kemarin.

Camat Aruta, Marwoto, mengungkapkan, Desa Dau merupakan satu-satunya desa di Pangkut yang tak tersentuh banjir yang terjadi sejak 3 Januari. Sementara dari sepuluh desa/kelurahan yang diterjang banjir di bagian hulu Sungai Arut, salah satunya Desa Panahan, mulai berangsur surut.

Namun, banjir di wilayah sekitar hilir sungai, termasuk Kelurahan Pangkut dan Desa Nanga Mua, kini justru bertambah parah. “Kalau ditotal ada sekitar 450 rumah warga yang terendam banjir di Kecamatan Aruta,” terang Marwoto, kemarin.

Soal Korintiga

Selain karena musim hujan, banjir kali ini diduga akibat aktivitas penggundulan hutan di lahan konsesi hutan tanaman industri (HTI) PT Korintiga Hutani (KTH). Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalteng, Ari Rompas, mendorong warga korban banjir melancarkan protes kepada perusahana Korea tersebut.

“Masyarakat yang merasa keselamatannya terancam oleh aktivitas HTI, memilik hak untuk menyampaikan keberatan. Perusahaan harus menghentikan aktivitas apabila ini telah berdampak negatif,” terang Ari Rompas.

Asisten Manager PT KTH, Indro, enggan berkomentar terkait tudingan itu. “Saya tidak berani mengonfirmasi. Tapi sudah lama kami tidak ada operasi produksi. Yang lebih tahu yang di lapangan. Nanti kami bicarakan dulu,” ujarnya. (B-1)