CAMAT Arut Utara (Aruta), Marwoto, siap membuktikan dosa PT Korintiga Hutani (KTH) dalam bencana banjir besar yang menerjang 10 desa dan satu kelurahan di kawasan hulu Sungai Arut, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Perusahaan Korea tersebut telah membabat ratusan ribu hektar lahan pada dua bukit dan menyulapnya menjadi hutan tanaman industri (HTI) dengan menghilangkan fungsi sebagai daerah resapan air.
"Mari kita sama-sama lihat ke lokasi untuk membuktikan dugaan saya itu. Dalam hal ini, walau pun harus berhadapan dengan tembok tebal, saya engga peduli," kata Marwoto kepada //Borneonews//, Sabtu (9/1/2016) malam.
Mengenai anggapan bahwa banjir besar kali ini hanya merupakan siklus delapan tahunan, Marwoto geleng-geleng kepala. Diakuinya, delapan tahun silam memang terjadi banjir serupa meskipun tidak sebesar sekarang.
Tapi, menurut Marwoto, itu terjadi pada tahun-tahun awal pasca penggundulan hutan oleh PT KTH. "Jadi, mau kita buktikan secara ilmiah, fakta di lapangan, atau asumsi?" tukasnya.
Asisten Manager PT KTH, Indro, enggan berkomentar terkait tudingan itu. "Saya tidak berani mengonfirmasi. Tapi sudah lama kami tidak ada operasi produksi. Yang lebih tahu yang di lapangan. Nanti kami bicarakan dulu," ujarnya (//Borneonews//, 9 Januari 2016).
Sementara kondisi terakhir banjir di Aruta, menurut Marwoto, mengalami naik turun. "Kalau hujan berhenti, banjir surut. Kalau hujan turun lagi, banjirnya kembali parah. terparah saat ini adalah daerah Kelurahan Pangkut," katanya.
Sekitar 450 kepala keluarga (KK), dalam sepekan terakhir, hidup dalam kepungan banjir di Aruta. Antara lain mereka tersebar di Kelurahan Pangkut RT 1 (42 KK) dan RT 2 (63 KK), Desa Penyombaan (24 KK), Sukarame (24 KK), Gandis (45), Pandau (23), Riam (32), Panahan (170 KK), Nanga Moa (4 KK).
Kepala BPBD Kobar, Hermon F Lion, mengatakan, orban banjir umumnya terisolasi di kawasan permukimannya. “Masih banyak warga yang memilih bertahan di dalam rumah meski sekelilingnya telah terkepung air," katanya.
Bantuan beras, mie instan, makanan siap santap, dan pakaian terus disalurkan ke lokasi banjir. Antara lain dari Dinas Sosial, BPBD, Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP), dan Fatyat Nahdlatul Ulama (NU) Kobar.
Apakah PT KTH ikut menyumbang? "Engga bisa diharapkan. Biar saja!" ujar Marwoto. (MW/RD/B-1)


