PERGERAKAN warga terus terhadang banjir bandang yang memutus sejumlah titik jalan poros Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama (Kolam), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng), Sabtu (9/1/2016). Banjir di musim penghujan yang memicu meluapnya Sungai Lamandau ini terjadi sejak Rabu (6/1/2016).

"Saya engga menyangka banjir begini. Terpaksa sepeda motor harus naik getek daripada balik lagi ke Pangkalan Bun," kata Euis Purwatiningsih, yang bersama suaminya hendak menuju perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Kolam, kemarin.

Sementara sebuah Toyota Kijang yang dikemudikan Hasan, mati mesin saat memaksa menembus banjir. Ia datang dari arah Kabupaten Sukamara menuju Pangkalan Bun dan terpaksa meminta warga setempat untuk mendorong kendaraannya .

''Tadi saya injak gas kencang, malah bannya selip. Saat saya longgarkan, mesinnya malah mati," kata Hasan.

Empat titik
Ada sekitar empat titik genangan banjir di ruas jalan Pangkalan Bun Kolam. Dua titik di sekitar kilometer (KM) 28 sampai KM 30, dan dua titik banjir berada di KM 35 sampai KM 37 atau sekitar jalan layang (flyover). Ketinggian air berkisar 30 cm sampai 2 meter dan panjang jalan yang tenggelam antara 100-300 meter.

Padahal, jalanan tersebut dalam proses perbaikan dan Pemkab Kobar sampai memasang portal agar tidak dilintasi dulu kendaraan berat dan besar. Tapi sekarang, malah diterjang banjir dan proyek perbaikan jalan pun kembali berantakan

Menurut warga setempat, salam sehari kemarin, hampir 500 sepeda motor yang terpaksa dinaikkan ke getek milik nelayan. Untuk menyeberangi bajir yang menggenangi jalan itu, setiap pengendara sepeda motor dikenakan tarif Rp50 ribu. Sedangkan bagi mobil yang mogok terjebak banjir, untuk mendorongnya warga tidak menentukan besaran upah.

Beberapa warga setempat menyebut, Sungai Lamandau sampai meluap akibat minimnya gorong-gorong di jalan poros yang menghubungkan Pangkalan Bun dengan Kabupaten Sukamara, Lamandau, bahkan hingga ke Kabupaten Ketapang, Kaimantan Barat (Kalbar) itu. "Pemda harus segera cek ke sini, masyarakat banyak yang kesulian melintas," ungkap Mukri. (CP/B-1)