TURUNNYA harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang mulai diberlakukan per 5 Januari 2016 lalu tidak berdampak pada tarif angkutan umum luar kota di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.

“Turunnya hanya sedikit saja, jadi kami sulit menurunkan harga tiket travel,” kata Samsul, salah seorang sopir travel di Sampit, Minggu (10/1/2016).

Tarif angkutan umum tujuan Kota Sampit ke beberapa daerah lain di Kalimantan Tengah bervariasi tergantung jarak. Seperti dari Sampit-Kuala Pembuang Rp90 ribu, Sampit-Pangkalan Bun Rp110 ribu, Sampit-Lamandau Rp200 ribu,

Sampit-Palangka Raya Rp100 ribu. Sampit-Muara Teweh Rp330 ribu, Sampit-Buntok Rp260 ribu. Sedangkan tarif luar provinsi yakni Sampit-Banjarmasin sebesar Rp200 ribu, Sampit-Batu Licin Rp400 ribu dan Sampit-Martapura Rp300 ribu.

Selain itu, alasan para sopir travel enggan menurunkan harga tiket karena harga onderdil kendaraan semakin mahal. Jadi kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM khususnya premium hanya Rp150 per liter tidak akan mengubah tarif angkutan.

Per 5 Januari 2016, harga BBM jenis premium dari Rp7.300 per liter turun menjadi Rp7.150 per liter. Solar Rp6.700 per liter turun menjadi Rp5.950 per liter, serta pertamax dari Rp8.650 per liter menjadi Rp8.420 per liter.

SPBU lengang

Pantauan Borneonews di Sampit, penurunan harga BBM ini tidak dibarengi dengan antrean panjang kendaraan yang melangsir di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kotim. Suasana SPBU tampak lengang.

Padahal, biasanya, jika BBM turun, antrean panjang kendaraan roda dua, roda empat maupun roda enam yang mengantre BBM di setiap SPBU di Sampit cukup meresahkan warga yang mengisi BBM untuk keperluan pribadi.

“Meski harga BBM turun tidak ada antrian kendaraan, lancar-lancar saja seperti biasa,” kata Gilang,27, salah seorang karyawan SPBU Kilometer 8 Jalan Cilik Riwut Sampit. (FI/B-7)