SEJUMLAH petani di Kabupaten Katingan ogah menjual rotannya melalui sistem resi gudang (SRG) di kawasan industri rotan Desa Hampangen, Kecamatan Tasik Payawan.
Sebab harga rotan mentah yang dipatok SRG dinilai terlalu murah dibandingkan dengan harga pasar.
“Harga yang dipatok SRG hanya Rp7.500 per kilo atau Rp75 ribu per kwintal,” tutur Madi, petani rotan Desa Talian Kereng, Minggu (10/1/2016).
Harga itu dinilai tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan untuk memotong rotan. Pasalnya untuk mendapatkan rotan satu kwintal butuh waktu 1-2 hari.
“Ya tergantung, kalau rotan banyak menjalar ke pohon maka bisa sampai dua hari untuk mengumpulkan rotan sepikul,” katanya.
Namun jika rotan banyak menjalar ke tanah dan pohon yang tidak terlalu tinggi maka rata-rata dalam sehari bisa mengumpulkan lebih dari satu kwintal rotan.
Madi dan petani lainnya untuk sementara tidak akan menjual rotannya ke SRG.
“Kita sambil menunggu harga pasaran saja untuk memotong rotan itu, sebab informasinya sekarang harga rotan akan naik lagi,” sebutnya.
Saat ini harga rotan di pasaran masih dipatok Rp65 ribu per kwintal.
“Masalahnya harga di SRG itu tidak akan berubah. Yaitu tetap Rp75 ribu per pikul, tapi untuk harga di pasaran bisa berubah-ubah, bisa saja besok-besok harganya lebih dari Rp100 ribu per pikul,” imbuhnya.
Kepala Disperindagkop dan UMKM Katingan, Saftul Anwar mengatakan dengan adanya SRG diharapkan masyarakat pemilik rotan terbantu.
“Sebab pihak perkumpulan rotan sudah sepakat menetapkan rotan ditingkat petani dipatok Rp7.500 atau Rp75 ribu per kwintal dan rotan itu akan dikumpulkan di SRG ini,” katanya.
Namun jika harga rotan di pasaran ternyata lebih tinggi, maka petani bisa menjual ke pengepul yang mematok harga lebih tinggi.
“Jadi dengan adanya SRG ini paling tidak sekarang ada jaminan bagi pemilik rotan di wilayah kita, sebab pihak bank juga akan menjaminnya,” katanya. (B-6)


