KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Meski belum ditemukannya kasus atau gejala yang mengarah pada penularan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak warga di Kabupaten Kapuas, tetapi imbasnya dirasakan oleh pengusaha atau peternak sapi.

Ketua Asosiasi Penjualan Sapi dan Kerbau Kabupaten Kapuas, Saferaniansyah mengatakan dampak adanya wabah PMK juga berdampak dengan sulitnya mendapatkan pasokan ternak dari luar daerah, sehingga juga membuat penjualan menurun padahal menjelang Iduladha 1443 H.

"Iduladha kami biasanya rutin satu tahun itu minimal 100 sampai 175 ekor setiap tahun. Kalau tahun ini yang saya terima hanya 72 ekor dan saya tidak menerima lagi pesanan karena kesulitan," katanya, Senin 27 Juni 2022.

Mengingat juga tidak bisa membeli dari luar biasanya kami beli dari Sulawesi dan NTB dan akhir-akhir ini sulit masuk ke kalimantan, karena pengawasan ketat terkait PMK. "Jadi darimana kita mencari sapinya," ucapnya.

Ditambah juga ternak dari provinsi tetangga seperti Kalsel juga sulit didapatkan untuk memenuhi kebutuhan di pasaran wilayah Kapuas.

"Ternak di pasar Pelaihari Kalsel itu baru dibuka sehingga kita kesulitan untuk membeli. Kalau Kalteng sumbernya tidak mencukupi," tuturnya.

--page

Dia juga menapresiasi petugas dinas yang gesit dan tertib melakukan pencegahan PMK dan seterusnya. Tetapi bagi pihaknya sangat berdampak dalam memenuhi ketersediaan pasar.

"Alhamdulillah di kapuas tidak ada gejala penyakit PMK itu sehingga sapi terkontrol semua bahkan dari petugas sangat tegas dalam mmeberikan imbauan kalau ada gejala itu tidak bisa dimasukkan ke Kapuas," pungkasnya. (DODI RIZKIANSYAH/B-11)