SULITNYA mendapat makanan jadi persoalan serius bagi warga yang terdampak banjir. Saat ini, ancaman penyakit juga mulai menghantui ratusan warga terdampak banjir.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar, Hermon F Lion menuturkan, banjir ini membuat mobilisasi warga terbatas akibat wilayah pemukiman yang terisolasi. Warga mulai kesulitan mendapatkan bahan makanan. Tak hanya itu, kondisi lingkungan yang lembab juga dapat mengakibatkan warga rentan gangguan kesehatan.
“Meski tidak ada hujan, tapi karena kebanjiran warga selalu kebasahan. Kasihan kalau dibiarkan, warga bisa terserang penyakit. Informasi terbaru yang kita terima, daerah Aruta bagian hulu sudah mulai surut. Di Pangkut masih relatif sama kondisinya,” ujar Hermon, Minggu (10/1).
Saat ini pihaknya tengah mengambil bantuan logistik makanan cepat saji ke BPBD provinsi yang akan disalurkan ke sejumlah titik terdampak banjir di Kobar. Menurutnya, pengumpulan bantuan korban banjir masih akan terus dilakukan. Pasalnya, musim penghujan diperkirakan akan berlangsung hingga Maret mendatang.
“Bantuan beras dari pemerintah masih akan disalurkan. Pakaian yang kita salurkan ke Pangkut itu pakaian layak pakai. Bantuan ini sekaligus untuk jaga-jaga. Soalnya, di Kolam (Kotawaringin Lama) 3 desa dan 1 kelurahan juga banjir. Di Pangkalan Banteng sudah surut”
Selain itu, pihaknya juga membuka posko penyaluran bantuan bagi korban banjir di Kantor BPBD Kobar. Posko bantuan korban banjir ini menurutnya untuk memudahkan penyaluran bantuan, khususnya bantuan dari warga perkotaan Pangkalan Bun. “Apapun itu, baik pakaian maupun makanan, kami berharap warga Kobar yang punya pakaian bekas dan masih layak pakai jangan dibuang. Salurkan saja bagi korban banjir. Biar kami yang mengantarkan ke lokasi.” (RD/B-7)


