SEJAK Jumat (8/1/2016) jalan Pangkalan Bun menuju Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) tergenang banjir. Hal ini membuat transportasi darat terputus. Para pengguna jalan, harus merogoh kocek lantaran harus menggunakan jasa getek atau perahu untuk menyeberangi banjir. Untuk mengatasi kondisi ini, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kobar akan meninggikan badan jalan, agar tetap fungsional.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kobar, Agus Yuwono mengatakan, banjir yang menggenang di sejumlah titik di jalan Pangkalan Bun-Kolam ini merupakan air luapan dari sungai kecil maupun rawa yang berada di sekitar jalan.
Namun diakuinya, kontur tanah atau lahan di dua titik banjir itu memang terbilang rendah. “Kemudian karakteristik tanah di situ memang mudah turun. Jadi harus terus ditimbun,” kata Agus Yuwono, Minggu (8/1).
Jalan di dua titik tersebut, menurut Agus Yuwono, perlu ditinggikan lagi. Pihaknya akan menambah timbunan tanah di badan jalan, hingga sekitar setengah meter. Penanganan jalan terendam banjir ini akan dilakukan secara bertahap.
Untuk jalan yang sudah padat, atau tak mengalami penurunan permukaan, akan segera ditingkatkan. Baik dengan pelapisan agregat maupun diaspal. “Ditambah agregat dan aspal, jadi kira-kira 1 meter.”
Sementara, untuk titik jalan yang becek akan disiasti dengan memberi tambahan lapisan geotekstil, ke dalam konstruksi badan jalan. Lapisan geotekstil menurutnya dapat membantu jalan yang masih dalam proses pembangunan menjadi lebih cepat kering dan padat. “Kami belum berpikir untuk bikin siring. Sungai kecil di pinggir jalan itu tidak perlu diperdalam. Karena, mau dialirkan kemana airnya, kalau daerah itu daerah rendah.”
Terpisah, Adi salah seorang pengguna jalan menyebutkan, terdapat sedikitnya dua titik banjir yang cukup dalam dan panjang di jalur Pangkalan Bun-Kolam. Yang pertama, di kilometer (KM) 30 sebelum jalan layang menuju Kolam, sepanjang kurang lebih 500 meter.
Yang kedua, berada sekitar 100 meter sebelum Jembatan Sungai Lamandau, sepanjang kurang lebih 100 meter. “Kira-kira setinggi paha orang dewasa. Jadi harus naik perahu getek,” ujar Adi, Minggu (10/1). (RD/B-7)


