AWAN tipis menggantung di langit Desa Sabuai, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawa-ringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Angin yang mulai bertiup pagi itu menggugah gemerisik daun padi yang diselingi suara ’kricik-kricik’ dari bulir-bulir padi yang sudah menguning.
Inilah areal persawahan terluas yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kobar. Luasnya mencapai lebih dari 1.700 hektare yang terhampar dalam satu bentangan lahan.
Tetapi, dari bentangan lahan yang sedemikian luas, tidak ada sepuluh persen yang tergarap. Rasa gembira menyaksikan bulir-bulir padi yang menguning tadi, segera sirna ketika kita keliling dan menyaksikan lahan-lahan yang digarap sekadarnya. Malah, sebagian besar meranggas alias dibiarkan menjadi padang rumput (bero).
“Tidak ada yang menggarap,” kata Kepala Desa Sebuai, M Rusli, yang saat itu sedang istirahat di pondok tengah sawah garapannya seluas empat hektare.
Tidak ada yang menggarap? Ia mengakui, setiap tahun desanya mendapat jatah pembagian traktor. “Tetapi jumlahnya tidak imbang. Kalau kita menggunakan secara bergilir, sampai habis musimnya, belum semua petani mendapat giliran,” lanjutnya.
Apa yang dikemukakan Rusli, diamini enam orang petani yang juga sedang menggarap sawahnya.
Pintu air bermasalah
Rusli menyadari, Sebuai menjadi andalan pemerintah dalam mengejar target produksi padi. Tetapi ada persoalan serius yang menghambat program ini. Yaitu saluran air yang ada, tidak berfungsi. Pintu-pintu air tidak berguna.
“Ada lebih dari sepuluh pintu air dibangun. Tetapi hampir semuanya tidak berfungsi. Pintunya tidak bisa menutup air. Jadi kalau hujan sawah terendam air, sedangkan kalau kemarau kita kekeringan. Tidak bisa menanam,” tutur Rusli.
Salah seorang petani bernama Arman menemani Borneonews bekeliling. Mengecek satu-persatu pintu air yang dicat warna biru itu. Setelah satu jam mengelilingi areal yang luas itu, hanya menemukan satu pintu air yang berfungsi.
“Jangan terkecoh warna cat yang bagus. Pintunya semua hancur, tak bisa menutup air. Saya lihat sendiri, beberapa bangunan pintu air ini rontok atau ambruk sebelum diserahterimakan ke dinas,” tutur Arman sambil memutar roda pembuka pintu air, menyakinkan Borneonews bahwa pintu air itu memang tidak berguna.
Benar saja, potensi aduhai, tetapi sayang, dibiarkan terbengkalai. (*)


