Pemerintah hendaknya serius merespon bencana banjir yang melanda akhir-akhir ini. Fenomena banjir yang paling anyar adalah terendamnya desa-desa di hulu Sungai Arut, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah.

Yang menarik dicatat kali ini, banjir ini justru terjadi di hulu sungai. Terutama sekali Sungai Arut. Sekurang-kurangnya ada 450 kepala keluarga yang tersebar di delapan desa di Kecamatan Arut Utara sudah sepekan ini terendam banjir.

Sebagai bencana, sudah tentu ratusan kepala keluarga, ribuan jiwa harus diselamatkan. Bantuan pangan, pakaian, obat-obatan, tempat tinggal, sekolah dan sebagainya harus diutamakan. Pemerintah, organisasi, perusahaan swasta, perorangan, atau siapapun yang terketuk hatinya, boleh berebut berbuat amal membantu korban banjir yang menderita.

Tetapi sebagai sebuah perkara banjir yang tergolong langka, bencana di hulu sungai yang menimpa desa-desa di dataran tinggi (natai) ini harus sungguh-sungguh dicermati. Tudingan Camat Arut Utara Marwoto bahwa  banjir besar ini diakibatkan oleh pembukaan hutan oleh perusahaan HTI PT Korintiga, tidak boleh dianggap angin lalu. Tidak boleh para stake holder berpangku tangan, dan membiarkan pernyataan Camat Marwoto  berlalu.

Disadari benar, desa-desa tersebut berada di tengah-te­ngah kepungan konsesi perusahaan hutan tanaman industri (HTI). Dataran tinggi yang dibabat habis tahun lalu, bisa jadi baru berdampak hari ini.   Inilah yang semua pihak harus turun tangan.

Pak Bupati, Dinas Kehutanan, Badan Lingkungan Hidup, dan semua pemangku tugas harus turun tangan. Lakukan pengecekan, lakukan audit lingkungan, lakukan penyelidikan. Dan, jika kelak ternyata terbukti terjadi pelanggaran dalam tata kelola lingkungan alam, jangan segan-segan lakukan proses hukum.

Bagi PT Korintiga, sebagai perusahaan memiliki tanggungjawab besar terhadap masyarakat di sekitarnya. Bertanggungjawab menjaga dan memelihara keselamatan lingkungan, keselamatan alam, dan keselamatan masyarakatnya.

Warga Kobar tahu managemen Korintiga dikenal berkepala batu. Bahkan, menurut Camat Marwoto, sudah sepekan warga direndam banjir, tapi tak secuilpun bantuan dari perusahaan yang dikelola orang-orang asal Korea itu.