MENTERI Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, Indonesia masih membutuhkan utang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia memastikan, utang tidak akan menimbulkan efek negatif asalkan digunakan untuk keperluan produktif.
“Selama dipakai untuk keperluan produktif, hasilnya pasti akan positif,” kata Bambang, di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Senin (11/1/2015).
Total utang pemerintah pusat hingga 2015 sudah mencapai Rp3.089 triliun atau 27% terhadap produk domestik bruto (PDB). Tahun lalu, pemerintah menambah utang sebesar Rp382,3 triliun.
Jumlah tambahan utang tersebut lebih tinggi dari target dalam APBN Perubahan 2015 sebesar Rp222,5 triliun dengan asumsi defisit anggaran 1,9% terhadap PDB. Namun, karena defisit anggaran melebar akibat penerimaan negara tak mencapai target, pemerintah terpaksa menambah porsi penarikan utang.
Belanja modal
Bambang mengatakan, pemerintah terpaksa mengorbankan pelebaran defisit anggaran ketimbang memotong belanja pemerintah. Sebab, belanja pemerintah sangat dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Saat ini, kata dia, ekonomi Indonesia tidak lagi bisa bergantung pada komoditas baik itu komoditas pertambangan maupun perkebunan. Ini lantaran harga komoditas sedang anjlok.
“Makanya, agar ekonomi tidak melambat lebih dalam, yang bisa kami jaga adalah pengeluaran pemerintah, khususnya belanja modal,” tandas Bambang. (B-1)








