LUAPAN air Sungai Arut tidak hanya merendam sejumlah desa di Kecamatan Arut Utara (Aruta) dan Kotawaringin Lama (Kolam), Kabupaten Kotawaringin Barat. Desa Umpang, Kecamatan Arut Selatan (Arsel) ternyata juga terendam banjir sejak setengah bulan yang lalu.

Sayangnya, desa ini lepas dari perhatian pemerintah daerah. Hingga saat ini mereka belum tersentuh. Padahal, hampir seluruh rumah warga di tiga rukun tetangga (RT) dengan jumlah kepala keluarga (KK) mencapai 47 terendam dengan ketinggian air mencapai 1 meter. Sejumlah warga mulai mengungsi. Namun, ada juga yang membuat lantai tambahan di dalam rumahnya (rerampa) untuk tidur dan menyimpan barang-barang.

Banjir yang menerjang Desa Umpang juga membuat puluhan keramba di daerah aliran sungai (DAS) Arut terancam. “Yang terdampak banjir ini dari manusia hingga mata pencaharian masyarakat. Ada 50 lubang keramba yang terancam,” kata Kepala Desa Umpang Jamli, melalui sambungan telepon, Senin (11/1/2016).

Selain itu, fasilitas publik seperti sekolah, Polindes serta Puskesmas Pembantu di desa bantaran Arut ini juga hampir terendam. Apabila terjadi hujan besar lagi, dipastikan air mulai masuk. Padahal menurutnya, rumah masyarakat dan fasilitas tersebut sudah memakai tiang-tiang sebagai pondasi.

Warga Umpang, Lifta, memilih untuk mengungsi ke Pangkalan Bun. Menurutnya, hingga saat ini belum ada perhatian dari pemerintah untuk menangani banjir di daerahnya. “Memang tidak separah desa lain, tapi rumah kami sama saja terendam air, ketinggian mencapai 50-70 centimeter,” kata dia.

Sementara itu, Bupati Kobar Bambang Purwanto mengatakan, Pemkab Kobar sudah menggelar rapat bersama dengan seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Pemkab berencana membenahi pembangunan seperti cekdam dan sumur resapan. “Saya menghimbau kepada seluruh kepala desa dan lurah yang warganya terkena banjir segera didata dan laporkan ke BPBD,” ungkap Bupati. (KK/MW/B-2)