PEMBANGUNAN Pasar Tembaga Indah di Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terancam molor. Sebab ratusan pedagang yang menempati lapak sayur dan ikan masih menunggak angsuran. Dari sekitar 200 pedagang, hingga, Senin (11/1/2016) baru 30 orang yang sudah memenuhi kewajibannya. Padahal, dimusim hujan ini pengelola pasar akan meningkatkan infrastruktur jalan. Pasalnya, jika jalan di dalam pasar tidak ditinggikan, maka bakal terancam banjir.
Selain jalan, saat ini pengelola pasar juga dipusingkan dengan persoalan sampah dan listrik. Pascameningkatnya jumlah pengunjung ke pasar relokasi Indrasari itu, produksi sampah yang dihasilkan meningkat sepuluh kali lipat.
Mereka saetiap malam harus mengeluarkan dana ekstra untuk biaya pengangkutan menuju pembuangan sementara di Jalan Ahmad Yani.
“Untuk biaya meninggikan timbunan jalan saja kami membutuhkan Rp60 juta. Belum lagi persoalan sampah. Yang jelas rencana pembangunan dan peningkatan sarana dan prasarana akan molor,” kata Ketua Karang Taruna Kelurahan Baru, sekaligus pengelola pasar Tembaga Indah, M Iksan, Senin (11/1/2016).
Bisa terhambat
Peningkatan daya listrik juga akan terhambat. Padahal dari 6 KWH yang terdapat di pasar, masing-masing KWH berdaya 900 watt. Dengan daya itu masih dikeluhkan pedagang. Idealnya, 1 KWH 1.200 watt.
Menurut dia, relokasi tahap pertama dan kedua sangat berbeda. Saat relokasi tahap pertama, pengelola tidak dipusingkan dengan masalah biaya pembangunan. Sebab pedagang hanya membayar di muka sebesar 50%, kemudian 30%. Sementara sisanya 20% dibayarkan saat serah terima kunci atau lapak dan kios sudah selesai.
“Kalau tahap kedua ini, kami harus membangunkan dulu tempatnya, setelah selesai mereka baru pindah, Jadi pelunasan utang alat dan bahan hanya berharapkan angsuran pedagang, untuk ikan sungai saja Rp500 ribu sementara ikan laut Rp1 juta.” (KK/B-7)


