HILANGNYA dr Rica Tri Handayani yang kemudian ditemukan di Pangkalan Bun, bukan hanya menjadi perhatian petugas kepolisian. Bukan pula menjadi perhatian publik. Tetapi terlebih utama adalah hendaknya menjadi perhatian penyelenggara negara.
Siapa penyelenggara negara? Sudah pasti, yang utama adalah para pejabat di pemerintahan, para petugas keamanan, para petugas intelijen di kepolisian dan di TNI, para petugas di Badan Intelijen Negara (BIN).
Mengapa? Sudah menjadi tren dan jamak, adanya warga negara yang menghilang. Baik menghilang di dalam negeri maupun menghilang ke luar negeri. Dan, belakangan diketahui, orang-orang yang menghilang itu diketahui bergabung dengan organisasi-organisasi terlarang, organisasi ektrim, organisasi separatis, organisasi teroris dan sebagainya.
Dalam waktu yang kurang lebih bersamaan, di saat dr Rica kabur dari Yogyakarta, dari Kota Gudeg itu juga tercatat ada empat orang menghilangkan diri. Belakangan diketahui, orang-orang itu adalah teman-teman dr Rica, yang dahulu ketika masih mahasiswa sama-sama bergabung dalam gerakan terlarang. Sebagaimana kita tahu, gerakan atau organisasi terlarang di Kalimantan Tengah itu bernama Gafatar alias Gerakan Fajar Nusantara.
Gerakan ini tahun 2013-2014 yang lalu, sangat subur dan popular di Kalimantan Tengah. Terutama di wilayah Kapuas dan Palangka Raya. Karena menimbulkan berbagai persoalan dengan masyarakat sekitar, dan terindikasi gerakan yang ‘aneh’ maka gerakan atau organisasi itu dibubarkan.
Dan para pengurusnya membubarkan diri. Tetapi pembubaran diri atas nama Gafatar itu, langsung berganti nama menjadi Barigas Tata Usanang, yang berarti Kita Sehat Sejahtera. Tetapi marilah kita cermati, bahwa pembubaran diri itu tidak ada artinya. Karena de facto, mereka hanya merubah nama, sementara program dan kegiatanya sama saja. Yaitu bergerak di bidang pertanian, dengan membetuk kelompok-kelompok tani. Dan kenyataannya, kala itu, dalam tempo singkat sudah terbentuk empat kelompok tani. Dalam waktu dekat mereka menargetkan 11 kelompok tani.
Di Jawa, kelompok ini juga sudah menyatakan bubar. Tetapi lihatlah, mereka berpindah markas di Mempawah, Kalimantan Barat. Di sana memang mereka tidak memakai nama Gafatar, melainkan bernama Negara Karunia Tuhan Semesta Alam (NKSA). Dan, dari kasus dr Rica, maka terlihat, anggota Gafatar dari segala penjuru melakukan reuni dan koordinasi di sana.
Negara macam apa yang mereka perjuangkan? Walahualam…. Tetapi jelas, benih-benih fragmentasi atas republik ini sudah di depan mata. Benih-benih disintegrasi sudah dianyam dengan cara-cara ‘tidak biasa.’ So, marilah kita waspada!








