BADAN Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menunjukan kenaikan suhu permukaan air laut masih berlangsung hingga Mei tahun ini. Namun, untuk bulan Januari dan Februari, Indoenesia bagian barat masih tertolong oleh musim hujan yang berlangsung.
“Padahal menurut catatan, anomali suhu masih 2,2 derajat celcius. Dan itu masih tergolong El Nino kuat,” terang Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Mulyono R Prabowo, dalam diskusi terkait El Nino di Jakarta (11/1/2016).
Sementara di bulan tersebut, Pulau Jawa sedang mengalami puncak musim hujan. Setelah bulan tersebut, El Nino diprediksi akan mulai luruh dan berangsur ke kondisi normal pada bulan April hingga Mei.
Walau begitu, Mulyono meminta pemerintah tidak lengah. Ia mengatakan, hal ini karena pengaruh El Nino masih akan terasa di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua. “Karena daerah tersebut sulit untuk mendapatkan curah hujan diatas 150 milimeter,” tambah Mulyono.
Terlebih, lanjutnya, di wilayah Jambi dan Riau. Wilayah tersebut mengalami perbedaan curah hujan karena lokasinya yang dihimpit wilayah Sumatera Barat dan Semananjung Malaysia.
Hal itu mengakibatkan curah hujan yang turun adalah sisa dari Malaysia dan Padang. “Jadi ketika angin dari timur laut datang, dia sudah turun di Malaysia. Sebaliknya, ketika dari angin dari barat, hujan sudah turun di Sumatera Barat,” tambah Mulyono.
Mulyono menyatakan el nino tahun ini tidak akan separah tahun lalu. Akan tetapi, masayarakat diminta untuk wasapada terhadap La Nina yang diprediksi akan datang di bulan September atau Oktober.
Kondisi tersebut akan dirasa berdampak besar. Pasalnya, La Nina akan bersamaan dengan datangnya musim hujan. “Jadi curah hujan akan meninggi dan diperparah dengan La Nina yang merupakan kebalikan dari El Nino ini,” tandasnya. (MI/B-10)








