POLITIKUS Partai Golkar, Ade Komarudin, akhirnya dilantik sebagai Ketua DPR RI, menggantikan Setya Novanto yang mundur bulan lalu karena kasus pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden saat melobi PT Freeport Indonesia.
Pria kelahiran Purwakarta, Jawa Barat, 20 Mei 1965, ini bukanlah politikus kemarin sore. Ade telah duduk menjadi anggota legislatif sejak 1997. Ia menjadi anggota legislatif dari Partai Golkar selama lima periode berturut-turut, dan telah berkiprah di berbagai komisi.
Sebelum dilantik sebagai Ketua DPR, Ade menjadi Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR. Ade sebelumnya pernah menjabat Sekretaris Fraksi Partai Golkar di DPR.
Namanya muncul ke permukaan saat Ketua DPR Setya Novanto dihadapkan pada kasus dugaan pencatutan nama Presiden Jokowi untuk minta saham saat melakukan pertemuan dengan Direktur Utama PT Freport Indonesia Ma’roef Sjamsoeddin.
Nama Ketua Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) tersebut diputuskan untuk diajukan Partai Golkar setelah menggelar rapat pleno pimpinan pusat pada Kamis (19/12/2015) malam.
Namun, seiring perpecahan di tubuh Golkar, tidak serta merta pengajuan nama alumnus Universitas Islam Negeri Jakarta tersebut berjalan mulus. Apalagi, DPR RI diselingi dengan masa reses dan baru kembali beraktifitas di Gedung Parlemen pada Senin, 11 Januari 2016.
Selama masa penantian tersebut, kisruh Partai Golkar juga semakin meruncing. Nama Ade kemudian diproses oleh DPR, dan resmi dilantik sebagai Ketua DPR menggantikan Setya Novanto dalam sidang paripurna.
Acara pelantikan itu dipimpin Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, di awal masa sidang 2016.
Dalam pidato pertamanya sebagai Ketua DPR, Ade Komarudin menyoroti produktivitas institusi DPR RI dalam membuat produk legislasi. “Tahun 2015, DPR hanya menghasilkan tiga undang-undang. Ini harus dievaluasi dan menjadi instrospeksi, sehingga ke depan harus lebih produktif,” katanya.
Ade Komarudin mengawali karier politik di Golkar sejak muda. Ia pernah menjabat menjadi wakil sekretaris jenderal di dua organisasi kepemudaan yang berbeda, yakni Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) sejak tahun 1993 hingga tahun 1998.
Pada 2010, Ade Komarudin melangkah mantap maju dalam bursa pemilihan ketua umum Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia atau SOKSI. Dalam pemilihan tersebut, Ade Komarudin mampu mendapat banyak dukungan kuat dari sejumlah pengurus SOKSI di daerah yang akhirnya menjadikannya sebagai ketua umum salah satu organ pendiri Golkar tersebut.
(ANT/B-10)








