Rahmad melangkah, mengayun kakinya tinggi-tinggi de-ngan hati-hati. Kakinya yang terbenam di lumpur harus diangkat perlahan, agar tidak mengganggu akar bibit padi yang baru saja ditanamnya.

Sebagai mantan kepala desa, ia tidak menanam dengan cara manugal sebagaimana kebanyakan petani di Sebuai. Bibit padi itu ia semai dahulu. Dan, ditanamnya berlarik-larik. Meski tidak persis seperti model penanaman ‘jajar legowo’, ia mencoba menanam dengan rapi.

“Saya sering mendengar, dan juga pernah melihat, tetapi tidak tahu apa kelebihan cara tanam dengan jajar legowo. Mau bertanya, tetapi tidak ada petugas penyuluh lapangan (PPL) yang bisa ditanyai,” kata Rahmat, setelah menginjakkan kakinya di atas pematang seraya mengusap dahinya.

Selain petak sawah yang baru ditanaminya ini, Rahmat juga memiliki petak lain, yang tanamannya sudah menghijau. Bahkan, sebagian sudah mulai berbunga.

“Itu, Pak, sebelah sana, yang ada orang menyemprot hama,” katanya sambil menunjuk petak sawah yang ada di sebelah kirinya. “Saya kesulitan, Pak, bagaimana caranya menyemprot hama ulat seperti ini. Tahun lalu saya tidak panen bagus gara-gara ulat semacam ini,” lanjut Rahmat  sambil memetik daun padi yang dimakan ulat. Ulat unik, karena berlindung dengan cara menggulung daun padi.

“Lho kan bisa bertanya pada PPL,” kata Borneonews. Dengan ekspresi sulit dibaca, Rahmad menyahut, “Aduh, Pak, di sini hanya ada seorang PPL. Tetapi, nyaris tidak pernah datang. Setahun mungkin hanya sekali atau dua kali datang. Itupun biasanya tidak sampai satu jam sudah buru-buru pulang.”

Tak pernah dibimbing

Kades Sebuai M Rusli lebih terang-terangan soal kelangkaan PPL. “Kami dibiarkan, tak pernah dibimbing dan didampingi penyuluh.  Padahal, harapan kami, musim begini ini kami butuh arahan, butuh bimbingan. Kami bingung jika ada hama. Obatnya apa, memakainya bagaimana… Kami pun ingin tahu bagaimana menanam yang baik.”

Arman, petani yang padi-nya mulai menguning ini lain lagi. “Kami sudah sediakan rumah untuk PPL menginap di sini. Agar kami bisa berdiskusi. Tapi, jarang sekali ke sini. Eh, sekali-kalinya ke sini, saat datang bantuan pupuk atau alat pertanian. Sepertinya dia sibuk bukan main. Ia membawa map, minta tandatangan, tetapi terus balik pulang…”.

Kekesalan Arman tak bisa disembunyikan. PPL mestinya setia pada tugasnya. Sungguh besar risikonya, membiarkan petani di sentra padi  ini bagai yatim piatu.
 (*)