RATUSAN orang terisolasi banjir dan selama lima hari sudah tidak menemukan nasi, di Desa Kondang, Kecamatan Kotawa-ringin Lama (Kolam), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah. Bupati Kobar, Bambang Purwanto, mengaku agak terlambat menangani para korban banjir itu karena pada saat bersamaan bencana serupa melanda Kecamatan Pangkalan Banteng dan Arut Utara (Aruta).
‘’Meski agak terlambat, kami tetap akan memaksimalkan bantuan bagi para warga korban banjir,” kata Bambang, saat ber-sama rombongan pejabat Pem-kab Kobar datang menyambangi lokasi banjir di Desa Kondang, Senin (11/1/2016).
Para korban mendapat bantuan sembako. “Nanti kita upaya-kan bahan makanan dan bantuan lainnya,” ujar Bambang.
Banjir di Kecamatan Kolam juga melanda beberapa desa lainnya, seperti Rungun dan Lalang. Di Rungun, menurut pengakuan warga setempat, malah sudah berlangsung sekitar sebulan.
Banjir tersebut, bukan hanya menerjang permukiman warga, tetapi juga memutus jalan poros Pangkalan Bun-Kolam, yang merupakan akses utama menuju Kabupaten Seruyan, Lamandau, bahkan hingga Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Sulit dielakkan
Menurut Bambang, banjir itu sulit dielakkan. Lantaran, desa-desa tersebut berada persis di tepi Sungai Lamandau yang pada musim hujan ini airnya meluap.
Hari ini Bambang juga berencana meninjau dan membawa bantuan untuk korban banjir di kawasan hulu bantaran Sungai Arut, Kecamatan Aruta. Di sana, terdapat delapan desa dan satu kelurahan yang sudah lebih sepekan diterjang banjir dan diduga kuat akibat penggundulan hutan oleh proyek hutan tanaman industri (HTI) PT Korintiga Hutani (KTH).
Lima rukun tetangga (RT) di Kelurahan Pangkut, menurut Camat Aruta Marwoto, adalah yang paling parah diterpa banjir. Dari pantauan Borneonews, para korban banjir dalam kondisi haus bantuan.
Para korban banjir di Aruta juga terancam dampak susulan, yaitu wabah penyakit. Yang paling dikhawatirkan adalah serangan kuman dari bangkai-bangkai binatang ternak yang mati karena terjebak banjir.
(RD/KK/B-1)


