GERAKAN Fajar Nusantara (Gafatar), organisasi yang telah dilarang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), disebut polisi di balik menghilangnya Rica Tri Handayani. Hal itu diungkapkan Direskrimum Polda DIY, Kombes Hudit Wahyudi, di Yogyakarta, Senin (8/1/2015).

Aliran sesat itu menjerat Rica semasa kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII). Hudit mengungkapkan, dugaan Gafatar terkait dengan teristiwa ini, sebab temannya Rica yang juga anggota Gafatar, ikut menghilang.

“Dokter Diah Ayu itu temannya Rica. Keduanya aktif di Gafatar saat kuliah. Kemudian setelah menjadi dokter, keduanya diam-diam ikut Gafatar di wilayah masing-ma-sing,” jelas Hudit.

Dalam tiga bulan terakhir, ada empat warga Yogyakarta yang disebut hilang terkait keberadaan Gafatar. Selain Rica dan Ayu, ada perempuan berinisial ES dan seorang remaja bernama Kevin.

Setelah dilarang, para aktivis Gafatar disebut eksodus ke Kalimantan. Kini, organisasi itu berubah nama menjadi Negara Karunia Tuhan Semesta Alam (NKTSA) dengan aktivitas menggarap kalangan petani. Kepergian Rica ke Kalimantan juga dispekulasikan terkait hijrahnya Gafatar itu.

Ketika suaminya, Dokter Aditya Akbar Wicaksono menempuh studi spesialis di Yogyakarta, Rica juga disebut kembali bergabung dengan Gafatar di daerah asalnya, Lampung. Tapi, pelariannya ke Kalimantan terendus polisi.

Rica dijemput di Pangkalan Bun, ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, saat berencana  terbang ke Jakarta. Ia didampingi pasangan suami-istri Eko Purwanto dan dr Venny, sepupunya yang juga pengikut Gafatar. (B-10)