ZAMAN dulu, pemuda suku Dayak Ngaju wajib mengusai ilmu beladiri Kuntau Bangkui. Beladiri tersebut diwariskan secara turun temurun oleh leluhurnya. Namun  secara perlahan tradisi beladiri tersebut mulai memudar. Banyak generasi muda Dayak Ngaju tidak mengenal apa itu Kuntau Bangkui.

Kondisi ini membuat perkumpulan seni bela diri pencak silat Manggatang Utus mengaktifkan kembali tradisi Kuntau Bangkui. Mereka langasung memberikan pembelajaran kepada sejumlah masyarakat hingga ke tingkat sekolah. “Mulai 2016, ini kami memprogramkan bagi setiap sekolah agar diadakan ekstra kurikuler seni beladiri Kuntau Bangkui agar warisan leluhur ini tidak hilang termakan oleh zaman,” ujar Gunawan Garib,  Ketua Pencak Silat Manggatang Utus, Selasa (12/1/2016).

Gunawan menjelaskan, untuk menguasai seni bela diri ini secara utuh relatif lama, sulit dan harus mempunyai ketahanan fisik yang kuat. Proses terakhir dari belajar Kuntau ialah kita berada dalam suatu lingkaran, dan harus bisa menangkis serangan yang menggunakan Mandau. Biasanya guru akan membekali para muridnya dengan memberikan ‘minyak garak’, yaitu cairan berupa minyak yang jika dioleskan ke tangan, gerakan tangan akan menjadi lebih lincah.

Sementara itu, salah seorang penggagas bela diri Kuntau Bangkui, Kornain mengatakan, kegiatan itu tidak dipungut biaya sama sekali. Karena semuanya dibebankan kepada pihaknya. “Saya hanya ingin seni bela diri Kuntau Bangkui ini tidak punah, hanya karena banyaknya seni bela diri yang bermunculan saat ini,” kata Kornain. (MH/B-2)