BUPATI Pulang Pisau, Edy Pratowo mendukung penggunaan Pulau Salat Nusa, Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya untuk pelepasliaran orangutan.

“Kita sudah koordinasi dengan Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng. Kawasan konservasi itu sebenarnya bisa memberikan kontribusi bagi peningkatan ekonomi masyarakat,” katanya.

Kawasan itu juga berpotensi untuk dijadikan suaka dan tentunya akan memberikan peluang bagi pecinta satwa untuk melihat kelesta­ri­an satwa di Pulang Pisau.

Dengan adanya aktivitas di wilayah itu maka bisa memanfaatkan kapal ferry penyeberangan, berjualan berbagai macam produk souvenir, berjualan makanan dan minuman serta berbagai usaha lainnya di lokasi renca­na kawasan tersebut.

Yang paling penting lagi, di kawasan konservasi orangutan itu bisa menjadi salah satu daya tarik bagi Bumi Handep Hapakat yang mengundang masyarakat luas untuk melihatnya.

Bila sudah berkembang, Edy berharap selain sebagai kawasan konservasi tentu bisa menjadi alternatif wisata bagi masyarakat.

Menurutnya kawasan Badak Besar dan Badak Kecil, Pulau Salat Nusa seluas 655 hektare itu sangat tepat bila dijadikan sebagai area pra-pelepasliaran dan suaka bagi orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan.

Dia mengatakan Yayasan BOS memilih lokasi itu, karena dinilai memiliki daya dukung ideal dengan vegetasi yang terpelihara baik, terisolasi oleh air sungai sepanjang tahun, dan tidak teridentifikasi memiliki populasi orangutan liar.

Hingga kini konservasi kawasan itu masih sering dianggap sebagai pengguna dana yang tak punya return nyata dan bisa diterima dalam jangka waktu pendek.

“Upaya pengelolaan kawasan konservasi memang menyerap dana tidak sedikit, tapi kawas­an konservasi sepertinya justru diyakini bisa menjadi kawasan yang produktif bila dikelola­ dengan baik dan, benar,” terangnya. (DY/B-6)