TAHUN ini Kapuas ditarget luas tanam padi 1.45 ribuh hektar, sedangkan lahan yang tersedia hanya 99.500 hektare.
Pakta integritas yang sudah ditandatangani harus mencapai 15%.
Saat ini sistem tanam padi unggul lebih menguntungkan petani bagi petani Kota Air ini.
Jarwadi, Kabid Produksi Tanaman Pangan Kapuas menyebut berdasarkan data dari mantri tani di 9 kecamatan, pada 2015 tidak mencapai target tanam 1.41 ribu, tapi hanya tercapai 92.714 hektare.
Kondisi ini tentu berpengaruh dengan pola tradisi tanam yang tidak menggunakan padi unggul serta luasan tanam makin sempit dan peralihan perkerjaan, terutama Kapuas Murung, Dadahup, dan Mantangai.
“Akibat dari pola tanam dengan sistem panen 1 tahu sekali dan alih fungsi lahan serta alih fungsi pekerjaan dari lahan pertanian ke lahan perkebunan sawit dan profesi sebagai petani ke pekerja kebun sawit berdampak terhadap berkurangnya hasil panen padi tahun lalu,” ungkapnya.
Jarwadi mengakui pola padi unggul dengan sistem panen 2-3 kali ini tentu bisa mencapai target, tapi untuk merubah sistem masyarakat perlu waktu lama.
Dia mengakui keunggulan padi unggul ini hanya bisa diterapkan dua kali sistem panen dan seharusnya bisa 3 kali panen, namum kendala yang dihadapi hama tikus dan kondisi air.
“Kita bisa menggunakan sistem padi unggul untuk setahun tiga kali panen, tapi kenyataannya hanya bisa dua kali panen, karena kendalanya keringan dan hama tikus,” imbuhnya.
Tahun ini Jarwadi menargetkan 3.000 hektare padi unggul, 1.000 hektare padi hibrida, dan 2.100 hektare padi bersubsidi dari provinsi dengan harga Rp5.700 per kilo dan bisa dicapai 30%.
Sebab pada Oktober, November, dan Desember 2015, luas tanam sudah mencapai 10%, khususnya di Desa Terusan, Kecamatan Bataguh.
“Untuk masa tanam Okmar sudaha da 12 hektare di Terusan dengan sistem padi unggul, tapi kita masih harus sedikit demi sedikit mengubah pola masyarakat untuk beralih ke sistem tanam padi unggul walau perlu perawatan ekstra,” tandasnya. (JM/B-6)


