Terhitung sejak Desember 2015 hingga pertengahan Januari 2016, telah ditemukan empat kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayah Kabupaten Gunung Mas (Gumas). Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gumas Waja J Dullin saat ditemui Borneonews di ruang kerjanya, Selasa (12/1/2016).

“Kasus DBD terjadi di Kuala Kurun, di dua rumah tangga. Satu kasus di wilayah eks transmigrasi Kuala Kurun. Kemudian ada tiga warga yang terserang DBD dalam satu keluarga di Perumahan Dinas Jalan Katamso (Kuala Kurun),” terang Waja.

Ia melanjutkan semua penderita DBD yang telah terdeteksi didominasi anak-anak dengan usia di bawah 15 tahun. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau agar semua pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan penyakit yang sangat berbahaya itu. “Semua penderita telah ditangani dan dalam proses penyembuhan,” ungkap dia.

Dengan maraknya kasus DBD di Gumas, kata Waja, pihaknya telah melakukan pemerikasaan sampel air di wilayah Kuala Kurun untuk melihat keberadaan jentik nyamuk. Bahkan, dari semua sampel air yang telah diperiksa, terdeteksi adanya jentik-jentik nyamuk.

“Hal itu sangat berbahaya dan bisa menyebabkan maraknya penyakit DBD. Ekspos yang kami lakukan ini bukan berarti di Kuala Kurun terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) DBD,” tegas dia.

Namun, lanjut dia, upaya ini merupakan tindakan preventif dari Dinkes untuk mendeteksi sedini mungkin keberadaan jentik nyamuk. “Setelah kita mencari sampel di lapangan, hampir seluruh wilayah Kota Kuala Kurun ada jentik nyamuk DBD dan penyebaran malaria pun ada, meski kecil,” ungkap dia.

Menurut Waja, Dinkes dalam waktu dekat akan melakukan pengasapan (fogging) untuk membunuh jentik nyamuk. Meski hanya bersifat sementara, fogging bisa membunuh sekelompok nyamuk dewasa. “Hal itu diharapkan bisa mengurangi penyebaran DBD,” tegas dia. (EP/B-8)