KABUPATEN Sukamara terancam krisis ikan air tawar budidaya lokal. Penyebabnya, minat masyarakat membudidayakan ikan air tawar menurun drastis pascatercemarnya air Sungai Jelai pada akhir 2015 lalu.
Masyarakat khawatir benih ikan baru yang dibudidayakan tidak bisa bertahan mengingat belum ada tindak lajut konkret dari Pemerintah Kabupaten Sukamara untuk mengatasi pencemaran Sungai Jelai.
Basir, petani keramba di bantaran Sungai Jelai, menuturkan bahwa sejak akhir 2015 lalu ia dan pemilik keramba lainnya memilih tidak membudidayakan ikan hingga batas waktu yang tak ditentukan. Penyebabnya kerugian yang diderita petani keramba saat terjadi perubahan warna air Sungai Jelai sangat besar.
“Memang sejak November 2015 lalu atau saat terjadi kematian ikan tambak akibat perubahan warna air sungai, sebagian besar pemilik keramba memilih untuk istirahat dan mengosongkan tambak. Mereka baru beberapa pekan ini kembali menebar benih,” kata Basir.
Sesuai dugaan, benih ikan yang ditebar ternyata tidak bisa bertahan hidup akibat kondisi air yang belum normal. Dari ribuan ekor benih yang ditebar hanya sebagian yang bisa bertahan.
“Dalam satu buah keramba ditebar 15 ribu ekor benih ikan, namun hanya separuhnya yang bisa bertahan hidup. Sebagian lagi mati dan juga ikan-ikan yang dibudidayakan tidak mau memakan pakan yang diberikan,” ungkapnya.
Dengan kondisi seperti itu, petani keramba di bantaran Sungai Jelai lebih memilih membudidayakan jenis ikan nila mengingat anggota vertebrata poikilotermik tersebut lebih tahan dengan kondisi air sungai ketimbang jenis lainnnya. (MG13/B-3)


