PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotawaringin Barat (Kobar) juga turut memberikan komentar soal naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang baru saja dirilis oleh PT. Pertamina.

Menurut Sri Lestari, naiknya harga BBM hingga melambung tersebut tidak tepat, karena terjadi di tengah masa transisi ekonomi masyarakat atau ekonomi masyarakat yang tidak menentu saat ini.

"Jadi saya menilai kurang tetap, karena kenaikan BBM beriringan dengan turunnya daya beli masyarakat pasca pandemi Covid-19," ujarnya, Senin, 11 Juli 2022.

Diketahui, bahwa naiknya harga BBM harga jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex tersebut, sesuai keputusan Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.

PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) umum, dalam rangka mengimplementasikan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 62 K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.

--page

Dikutip dalam keterangan di situs Resmi Pertamina untuk wilayah Kalimantan Tengah, harga Pertamax Turbo (RON 98) menjadi Rp 16.550 per liter, Dexlite menjadi Rp 15.350 per liter, dan Pertamina per liter jadi Rp 16.850.

Sebelumnya, pada Februari 2022 lalu, harga tiga jenis BBM tersebut di Kalimantan Tengah yaitu, Harga BBM jenis Pertamax Turbo Rp 13.750, Dexlite Rp 12.400, dan Pertamina DEX Rp 13.450.

Kemudian, lanjut Sri Lestari Politisi dari Partai Gerindra ini mengungkapkan, jika saat ini komoditi andalan masyarakat Kobar juga sedang tidak menentu. Sehingga hal tersebut juga berpengaruh pada ekonomi masyarakat.

"Saat ini sektor perkebunan khususnya sawit yang menjadi komoditi andalan masyarakat Kobar sedang terpuruk juga. Tentu kenaikan harga BBM menbuat masyarakat sangat terbebani," ungkapnya. (DANANG/B-5)