BANJIR di beberapa titik wilayah Lamandau mulai menyurut sejak beberapa hari terakhir.

Seperti pantauan Selasa (12/1) siang tadi, di akses darat yang menghubungkan Nanga Bulik - Sungai Mentawa yang sempat terputus total, kini sudah mulai bisa dilalui. Meskipun di beberapa titik jalur tersebut masih digenangi air setinggi lutut orang dewasa.

Selain itu, hunian penduduk di daerah aliran sungai (DAS) Lamandau pun tampak tidak tergenang air.

Namun demikian, belum bisa dipastikan kapan ancaman banjir ini akan benar-benar berlalu.

Pasalnya, di setiap musim penghujan seperti sekarang ini luapan air sungai sangat dipengaruhi curah hujan di daerah hulu sungai.

Banjir yang melanda banyak desa di Lamandau menimbulkan beragam kerugian.

Contohnya, puluhan hektare lahan pertanian di desa Tri Tunggal, kecamatan Sematu Jaya, dipastikan terancam gagal panen karena kondisinya kini terendam banjir.

Belum lagi ancaman lain seperti penyakit yang menyerang warga dampak banjir.

Namun, hingga kemarin, dinkes setempat  belum mendapatkan laporan resmi terkait adanya korban sakit akibat banjir.

“Hingga saat ini belum ada laporan resmi masuk. Kita pastikan bahwa petugas kita saat ini standby di lapangan, seperti yang di puskesmas, polindes maupun pustu,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Lamandau Jozeb HF Rumouw.

Dikatakannya, korban banjir ini biasanya menyatu dengan air kotor, maka rawan berbagai penyakit, seperti penyakit kulit atau diare.

Meski begitu, Jozeb berharap agar masyarakat baik itu korban banjir maupun tidak, untuk tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Seperti menjaga kesehatan jasmani melalui asupan makanan dan minuman sehat. Karena ancaman penyakit akibat cuaca seperti ini akan rentan menyerang siapa saja.(B-11)