Seekor orangutan jantan dewasa berusia 15 tahun ditemukan dalam kondisi fisik yang kritis di wilayah Sungai Mangkutub, Kecamatan Mentangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Individu primata dilindungi itu bertahan hidup dengan 13 peluru bersarang di tubuhnya dan sejumlah bekas pe-nganiayaan dengan benda tumpul.

“Dari hasil X-Ray (sinar X), di bagian dada setidak-nya terlihat jelas delapan butir peluru senapan angin kaliber 4,5 mm. Di pelipis mata sekitar 5 butir,” ungkap Humas Yayasan Orangutan Borneo Survival (BOS) Nyaru Menteng, Agung Monterado, di Palangka Raya, Selasa (12/1/2016).

Hasil pemeriksaan dokter hewan Yayasan BOS juga mendapati tengkorak kepala Pongo pygmeaus wrumbii itu retak. ‘’Diduga akibat hantaman benda tumpul,” imbuh Agung.  

Operasi evakuasi

Tim BOS Nyaru Menteng mendapatinya saat menggelar operasi evakuasi terhadap ratusan orangutan liar di wilayah Su-ngai Mangkutub, Senin (11/1/2016). Ini merupakan hutan lindung dan lokasi Stasiun Penelitian Orangutan

Telanan, dengan populasi terpadat kedua di Kalteng, setelah Taman Nasional Tanjungn Puting (TNTP) di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Habitat mereka di Sungai Mangkutub kondisinya kritis karena terdampak maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun lalu. Di sana juga marak pembalakan liar yang dibekingi korporasi.

“Pertimbangan kami, jika tidak cepat dilakukan evakuasi, daya tahan hidup mereka (orangutan) tidak akan panjang. Di belakang sungai itu sudah habis terbakar. Pohon buah-buahan hanya tingggal jenis rasau, itupun jumlahnya terbatas,” tutur Agung.

Saat dilakukan pembiusan untuk memudahkan pemindahan ke habitat baru, ditemukanlah salah satu orangutan tadi yang terluka. ‘’Mulut dan hi-dungnya mengeluarkan darah,” ungkap Agung.

Dokter hewan yang memeriksanya memprediksi, orangutan nahas itu akan mengalami kebutaan. ‘’Kami tidak bisa mengembalikan ke habitatnya,” tandas Agung. (CA/B-1)