Dokter Rica Tri Handa-yani cs ternyata empat hari berada di Pangkalan Bun. Namun, jejak pelarian mereka di ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, ini diliputi kabut misteri.

Pelarian Rica dibawa oleh sepupunya, yaitu pasangan suami istri Eko Purnomo-dr Venny dan Krisna Fitriarta (adik Eko). Seperti diberitakan sebelumnya, mereka diduga kuat pengikut ormas terlarang gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) bentukan nabi palsu Ahmad Musadeq, asal Bogor, Jawa Barat.

Sikap mereka pun sangat tertutup kepada polisi yang menyergapnya di Pangkalan Bun, Senin (911/1/2016). ‘’Setiap kami ta-nyakan kegiatan mereka selama di Pangkalan Bun, jawabannya selalu sama, yaitu cari kerja,” kata Kapolres Kobar, AKBP Heska Wahyu Widodo, melalui kepala Urusan (Kaur) Reserse Kriminal (Reskrim) Ipda Mujiyo, Selasa (12/1/2016).

Aura aneh juga tercermin dari air muka dan bola mata mereka, seperti dalam pengaruh hipnotis. ‘’Raut muka dan tatapan me-reka terkesan kosong,” ungkap Mujiyo.

Pergi ke mentawah

Rica (28 tahun), asal Provinsi Lampung,  menghilang de­ngan membawa anak balitanya sejak 30 Desember 2015. Sementara suaminya, dr Aditya Akbar Wicaksono, sedang studi program spesialis di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Rupanya, Rica pergi ke Kabupaten Mentawah, Kalimantan Barat (Kalbar), dibawa Eko, Venny, dan Krisna. Dari sana kemudian ke Pangkalan Bun via Pontianak (Kalbar) menggunakan bus umum. “Mereka mengaku tiba di Pangkalan Bun pada Kamis (7/1/2016),” ungkap Mujiyo.

Pergerakan mereka ke Pang-kalan Bun terendus polisi. Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengirim tim yang di­pimpin Kepala Unit kejahatan dan kekerasan (Kanit Jatanras) AKBP Ganda Saragih, yang pernah bertugas di Polres Kobar. Tim ini mengajak serta suami Rica, Aditya.

Dilalah, polisi mendapati Rica cs saat hendak check-in di Bandara Iskandar untuk terbang ke Jakarta, Senin pagi lalu. Sebe-lumnya, pukul 06.00 WIB, mereka check-out dari Hotel Diana di Jalan Pakunegara, Pangkalan Bun.

Mereka berhasil dicegah terbang ke Jakarta dan dibawa meninggalkan bandara menuju Hotel Grand Kecubung, tempat tim Polda DIY menginap. Pada pukul 11.30 WIB, mereka kemudian terbang ke Semarang untuk pulang ke Yogyakarta.

Terungkapnya pelarian dr Rica cs, terkuak pula keberadaan Gafatar di Kobar. Komandan Kodim 1014/Pangkalan Bun, Letkol Inf Suparman, mengaku sekitar sebulan lalu anggotanya melaporkan kehadiran mereka antara lain di Desa Rungun, Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam).

Jumlah anggota Gafatar di Kolam itu 26 orang. “Keberadaan dan aktivitas mereka masih terus dipantau,” kata Suparman.

Dari Jakarta, Kadiv Humas Polri Irjen Anton Charliyan, mengatakan, Gafatar menawarkan ajaran kasih sayang untuk mendapatkan pengikut. Mereka juga mengajarkan agama tanpa banyak ritual wajib, seperti tidak perlu salat asalkan berbuat baik.

“Itu kedok, agama oleh me-reka dipermudah. Sehingga, bagi orang yang tidak ingin rumit (dalam beragama), menjadi sa-ngat menarik,” ujar Anton.

Ia mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati terhadap kelompok tersebut yang suka mengubah-ubah nama. ‘’Gafatar sudah dianggap organisasi masyarakat terlarang, sesuai kesepakatan antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan tokoh agama,” tandas Anton.
(B-1)