ORGANISASI Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) diduga sudah masuk ke Kabupaten Sukamara.
Dugaan mengenai kehadiran organisasi yang ingin menyatukan ajaran agama Ibrahimiyah, seperti Islam, Kristen, dan Yahudi, itu mencuat seiring kehadiran 13 kepala keluarga (KK) di RT 04, Desa Kartamulya, Kecamatan Sukamara.
Ketua RT 04 Pisif mengatakan, ke-13 KK itu telah melapor kepadanya dengan membawa 10 kartu keluarga. Namun mereka tidak memiliki kartu tanda penduduk dengan alasan masih dalam proses pembuatan.
“Mereka sudah melapor dengan memberikan 10 kartu keluarga. Namun yang datang mengantar kartu keluarga hanya satu orang. Saat ditanya KTP, ia beralasan masih dalam proses,” ungkap Pisif saat ditemui di kediamannya, Rabu (13/1/2016).
Ia melanjutkan, hingga saat ini ke-13 KK itu belum juga mengantar KTP yang dijanjikan.
Warga Desa Kartamulya, katanya, selama ini tidak begitu peduli dengan keberadaan 13 KK baru tersebut.
Hanya, Pisif merasa ada sesuatu yang janggal karena ke-13 KK yang semuanya berasal dari Pulau Jawa itu tidak mau berbaur kepada warga sekitar.
Kecurigaannya semakin bertambah setelah ada seseorang datang padanya dengan menanyakan beberapa data. Setelah diperiksa, ternyata cocok dengan ke-13 KK tersebut. Namun, ada empat orang lainnya yang tidak terdata.
“Sebelumnya ada orang dari Jakarta yang menunjukan data. Setelah dicek terdapat kecocokan dengan data KK yang diserahkan warga tersebut” kata Pasif.
Saat ini dengan maraknya pemberitaan miring mengenai organisasi Gafatar, warga mulai meningkatkan kewaspadaan. Apalagi ke-13 KK baru itu enggan berbaur dengan masyarakat sekitar.
“Mereka berkumpul sesama mereka saja, jadi kami tidak tahu apa aktivitas mereka. Yang terlihat mereka hanya berkebun,” kata Pisif lagi.
Mengadu nasib
Berbekal informasi dari Ketua RT 04, Borneonews lalu menyambangi permukiman 13 KK tersebut.
Di lokasi itu terdapat tujuh buah rumah yang dihuni banyak orang. Salah seorang di antaranya bernama Siska Wati.
Saat dibincangi Borneonews, perempuan yang mengaku berasal dari Jawa Tengah itu menyebut tujuan kedatangannya ke Kabupaten Sukamara hanya untuk mengadu nasib. “Datang ke Sukamara hanya bertujuan untuk mengadu nasib,” akunya.
Siska menuturkan, sebelum menetap di Sukamara dirinya sempat bermungkim di Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat.
Namun, lantaran tidak mendapat lahan untuk berkebun, ia dan keluarga memutuskan hijrah ke Sukamara. Menurut dia, di Sukamara dirinya bisa mendapat lahan dengan mudah dan murah. (B-3)


