TAMIANG LAYANG –

BEBERAPA waktu yang lalu, salah satu keponakan saya yang baru bersekolah di kelas 4 SD bertanya:

“Tante bagaimana kalo sebuah benda bergerak dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya? Seperti tokoh superhero the Flash.”

“Tante kan bumi itu di galaksi Bima sakti, berarti ada galaksi lain, ada manusia lain juga dong di planetnya?”

Itulah keadaan yang telah nyata terjadi pada generasi anak-anak di masa sekarang, kecepatan informasi yang mereka terima, membuat kita sebagai guru harus menyadari dan mengakui bahwa kita bukanlah satu-satuya sumber belajar bagi anak atau siswa.

Sehingga kurikulum lama yang menjadikan peran guru sebagai sumber belajar utama tidak lagi relevan untuk digunakan.

Sesungguhnya, apa itu kurikulum?

Kurikulum tidak hanya segala ilmu yang diajarkan untuk siswa, untuk siswa hanya sekedar tahu, tetapi lebih dari itu, kurikulum sesungguhnya adalah keseluruhan titik awal hingga akhir pengalaman belajar murid. Kurikulum ibarat motor penggerak, jika motor tidak berfungsi dengan baik, distribusi ilmu, pengalaman belajar bahkan pelajaran hidup dan karakter tidak akan berjalan dengan utuh.

--page

Ada 4 komponen dalam kurikulum menurut Ralph W. Tyler dalam buku Basic Principles of curriculum and instruction, yaitu:

  1. Tujuan = artinya adalah apa saja kemampuan yang perlu dicapai oleh murid
  2. Konten = yang berisikan materi yang disajikan dalam pembelajaran
  3. Metode = atau bagaimana setiap kompetensi yang menjadi tujuan dapat dicapai
  4. Evaluasi = tentu setiap proses pembelajaran perlu di evaluasi pelaksanaan agar semakin baik dan mendukung pencapaian potensi siswa

Prinsip umum pembelajaran

Kegiatan pembelajaran merupakan implementasi kurikulum di dalam kelas. Sebagai pelaksana kurikulum guru perlu memahami prinsip umum pembelajaran dengan paradigma baru menurut para pakar pendidikan yang telah disampaikan lewat platform Merdeka Mengajar yang telah diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 11 Februari 2022, prinsip pembelajaran ini diharapkan dapat memfasilitasi beragam kebutuhan murid. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

  1. Mempertimbangkan kebutuhan capaian belajar murid yaitu kebutuhan dan perkembangannya dengan beragam latar belakang dan potensi yang berbeda. Salah satu untuk mengetahuinya adalah dengan assesmen diagnostik.
  2. Membangun kapasitas belajar murid menjadi pembelajar sepanjang hayat, murid tahu kondisi tantangan di zamannya, sehingga dapat mengelola tantangan dengan baik. Dalam pembelajaran di kelas guru dapat melibatkan murid untuk menemukan alur pembelajaran yang tepat, dengan membuka dialog seluasnya.
  3. Mendukung perkembangan kognitif dan karakter murid. Bukan hanya untuk menyelesaikan materi pembelajaran tanpa peduli sejauh mana perkembangan karakter murid itu sendiri.
  4. Menyesuaikan konteks kehidupan murid.  Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran harus sesuai dengan konteks kebudayaan dan kehidupan dimana murid berada. Harapannya ditengah kemajuan dan perkembangan zaman satuan pendidikan tetap dapat mengajarkan dan memelihara warisan adat budaya yang hidup di masyarakat.
  5. Mengarah pada masa depan yang berkelanjutan. Begitu banyak isu-isu global yang dapat menjadi konten materi, bahkan hal-hal baru yang terjadi diberbagai belahan dunia diharapkan dapat membangun kesadaran siswa agar lebih siap sebagai penerus kelanjutan kehidupan.

    --page

    Saat ini dari program Merdeka Belajar Episode 15, Kemdikbudristek telah meluncurkan Kurikuluk Merdeka. Dalam Implementasi Kurikulum Merdeka, Capaian pembelajaran menjadi acuan kompetensi dan kriteria yang ingin di capai dalam sebuah mata pelajaran. Bagaimana konsep Capaian Pembelajaran ini dan hubungannya dengan teori Piaget dan teori Konstruktivisme?

Capaian pembelajaran disusun dengan memperhatikan tahapan-tahapan perkembangan murid sesuai usianya yang dikenal dengan istilah fase. Satu fase biasanya memenuhi dalam 1-2 tahun. Dengan ini diharapkan murid dan guru mempunyai waktu yang lebih lama dalam mengembangkan kompetensi dan memperdalam pemahaman.

Salah satu semangat dalam kurikulum merdeka adalah konsep mengajar pada tahapan pembelajaran yang sesuai dengan tingkat capaian dan kemampuan awal.

Menurut teori konstruktivisme pemahaman siswa dapat dicapai lewat pengalaman langsung yang berkembang dan terbangun dalam proses kegiatan belajar.

Kompetensi dalam capaian pembelajaran tiap fase perlu mendukung terwujudnya profil pelajar pancasila.

Profil Pelajar Pancasila.

Profil pelajar pancasila menggambarkan karakteristik pelajar yang diharapkan akan terbangun seiring dengan perkembangan dan kemajuan proses pendidikan setiap individu.

6 dimensi dalam Profil Pelajar Pancasila adalah:

  1. Beriman bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia
  2. Mandiri
  3. Bernalar kritis
  4. Kreatif
  5. Bergotong royong
  6. Berkebhinekaan global

Jadi, mengapa kurikulum perlu diubah dan beradaptasi?

Dengan kemajuan zaman kurikulum perlu menyesuaikan dengan kenyataan diatas bahwa siswa perlu “merdeka dalam belajar” dengan potensi dan bakat yang berbeda, pembelajaran tidak perlu seragam, kurikulum dengan memperhatikan konteks dan keadaan dimana sekolah dan siswa tinggal, diharapkan mampu memandu proses belajar. Dengan keadaan ini kita memang harus mengakui bahwa kurikulum memang perlu diubah dan diadaptasi serta dikembangkan.

Penulis: Lusitania Margretha/Seorang guru tinggal di Barito Timur