Istilah ‘Lahan adalah Napas Terakhir Petani’ itu menggambarkan keresahan Kepala Dinas pertanian dan Peternakan (Distanak) Kotawaringin Barat (Kobar), Rosihan Pribadi. Ia sungguh menyayangkan okupasi (penguasaan tanah) melalui jual beli serta pengalihfungsian lahan-lahan pertanian menjadi perkebunan. Akibat dari itu semua, lahan pertanian pangan kian terkikis.
Saat ini lebih dari 1.000 hektare lahan pertanian di Sebuai yang eksis dapat menjadi lumbung tanaman pangan terutama padi di Kabupaten Kobar. Ia berharap kawasan pertanian tersebut akan terus bertahan. Pasalnya, di Kabupaten Kobar lahan pertanian yang mirip di Pulau Jawa hanya berada di Sebuai.
Untuk itu, Sebuai akan diupayakan menjadi kawasan pertanian berkelanjutan. Saat ini Distanak bersama Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) sedang menyusun regulasinya.
“Minimal perturan bupati (perbub)-lah untuk mewujudkan penunjukan kawasan pertanian berkelanjutan agar terlaksana dengan baik,” kata Rosihan kepada Borneonews di ruang kerjanya, Rabu (12/1/2015).
Tantangan berat
Pengamanan terhadap kawasan pertanian inilah yang ia nilai merupakan tantangan berat yang harus dihadapi oleh pemerintah daerah. Tetapi terkait budidaya pertanian di Kabupaten Kobar, petani sudah cukup mampu secara teknis untuk bercocok tanam padi.
Sekarang ini, menurut dia, dinas hanya tinggal memberikan bimbingan teknis dalam konteks penggunaan varietas yang lebih unggul dan penggunaan pupuk yang tepat waktu dan sasaran, serta pengolahan panen-paska panen hasil pertanian. “Penanganan panen biasanya ditebas, dipotong dan ditumbuk, saat ini sudah kita bantu dengan mesin perontok, dengan penggunaan alat tersebut ada peningkatan hasil panen,” katanya.
Mesin giling padi yang ada sekarang juga masih menggunakan teknologi lama, mungkin saja sudah banyak alat-alatnya yang rusak. Itu semua diremajakan dengan bantuan mesin giling pada 2015 di Desa Sebuai.
“Jadi, bukan hanya budidaya tetapi hingga pengolahan panen dan pasca panen sudah kita lakukan dengan baik,” tandas Rosihan (KK/*)


