DUA anggota ormas Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), yaitu pasang-an suami-isteri Eko Purnomo dan dr Venny Orinanda, ditetapkan sebagai tersangka penculikan dr Rica Tri Handayani. Penetapan tersangka dilakukan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dua hari setelah menyergap mereka di Pangkalan Bun, ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah.

“Keduanya langsung kami tahan untuk keperluan penyidikan,” ungkap Direktur Reserse Kriminal (Direskrim) Polda DIY, Kombes Hudit Wahyudi, Rabu (13/1/2016).

Hudit memastikan bahwa penyidiknya telah mengantongi bukti kuat untuk menetapkan Eko dan Venny sebagai tersangka. Mereka dijerat pasal berlapis, yaitu 325 KUHP tentang penculikan dengan maksimal hukuman 12 tahun penjara dan subsider pasal 332 KUHP tentang membawa lari orang dewasa dengan ancaman maksimal sembilan tahun penjara.

“Selama ini Rica di bawah kekuasaan Eko dan Venny. Bahkan, ATM milik Rica juga dikuasai oleh tersangka Eko,” kata Hudit.

Terbang ke Mempawah

Venny sendiri merupakan sepupu dr Rica. Bersama sang suami, Eko, ia membawa kabur dr Rica bersama satu anak balitanya dari Yogyakarta ke Mempawah, Kalimantan Barat, sejak 30 Desember 2012. Ikut serta adik Eko, Krisna Fitriarta.  

Menurut Kanit jatanras Polda DIY AKBP Ganda Saragih, tepatnya mereka berada di Mempawah Hilir selama dua hari. Informasi lain menyebutkan, daerah ini dikenal sebagai target markas Gafatar dengan klaim memiliki lahan 500 hektare dengan kedok aktivitas pertanian.

Karena terusik oleh gencarnya pemberitaan tentang raibnya dr Rica, dari Mempawah mereka bergerak menggunakan jalan darat ke Pontianak, ibukota Kalbar. Berikutnya menggunakan bus umum ke Pangkalan Bun selama 14 jam dan tiba pada Kamis (7/1/2016). Selama empat hari mereka menginap dengan berpindah-pindah hotel.

Terakhir mereka diketahui check-out dari Hotel Diana di Jalan Pa-kunegara, Senin (11/1/2016) pagi. Lalu menuju Bandara Iskandar. Namun, saat hendak terbang ke Jakarta, mereka disergap tim Polda DIY dan Polres Kobar yang me­ngendus jejak pelariannya. Suami dr Rica, dr Aditya Akbar Wicaksono, diajak serta dalam tim itu untuk memastikan sosok sang istri.   

Tentang dr Rica , menurut Hudit, sampai kemarin kondisi fisik dan posikisnya masih lemah. “Mungkin dalam 2-3 hari ke depan dia baru akan diperiksa,” katanya.
(ANT/B-1)

Istana: Gafatar Resahkan Publik!

Sepak terjang yang meresahkan dari ormas terlarang Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), juga mengusik Istana Negara. Presiden Joko Widodo meminta semua pihak waspada serta aparat harus memantaunya dengan seksama dan mencari data selengkap mungkin.

“Apakah ada latar belakang, paham-paham ideologi tertentu, kepercayaan tertentu, ataupun tujuan tertentu, ini yang sekarang sedang didalami,” kata Sekretaris Kabinet (Sekkab) Pramono Anung, di Jakarta, Rabu (13/1/2016).

Gafatar dalam aktivitasnya berselubung menjalankan aksi sosial, tetapi di sisi lain dalam aspek ajaran sudah melenceng dari Islam. Dalam kesehariannya, mereka tidak menjalankan ibadah sebagaimana rukun Islam: bersyahadat, shalat, zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji.

Latar belakang orang-orang hilang di tangan mereka, sebagian besar berpendidikan relatif tinggi atau latar belakang pengusaha sukses. Yang menjadi sasaran rekrutmen Gafatar juga mereka yang memiliki keahlian khusus, seperti yang dialami dr Rika Tri Handayani.

Atas fenomena itu, menurut Pramono, masyarakat agar berpikir rasional. Jangan mudah percaya pada ajaran pormas seperti itu. Apalagi, yang hilang oleh “tangan-tangan” Gafatar bukan cuam dr Rica, tapi ada sejumlah lainnya yang belum jelas keberadaannya.

“Ini sudah membuat keresahan publik,” tandas Pramono.
(MI/B-1)