TAHUN Anggaran 2016 sudah mulai bergulir. Aneka program pembangunan, baik di kementerian, di gubernuran, di kabupaten, kecamatan, dan terutama di perdesaan, sudah pula harus berjalan.
Bukan musimnya lagi pembangunan baru menggeliat di akhir tahun. Pembangunan, harus dimulai dari awal tahun. Sehingga sepanjang tahun, dinamika pembangunan terjadi. Dan, di akhir tahun, hasil pembangunan sudah bisa dinikmati.
Khusus di desa, tahun 2016 bakal terjadi dinamika baru. Karena, darah segar dipompakan ke desa secara besar-besaran. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar dalam dialog dengan Organisasi Masyarakat Sipil dalam Percepatan Kemandirian Desa di Jakarta, Rabu (13/1/2015), menyampaikan arahan.
Arahan bagi desa itu adalah, agar dana desa, di tahun 2016 ini, dialokasikan untuk pembenahan infrastruktur. Sebagaimana pula disampaikan oleh Presiden Joko Widodo, untuk tahun pertama, prioritas pembangunan infrastruktur adalah mutlak.
Infrastruktur yang dimaksud adalah penunjang perkembangan desa seperti jalan, irigasi, fasilitas air bersih, dan sebagainya. Agar hasilnya optimal, harus dilakukan dengan padat karya. Bahan baku, diusahakan dari desa setempat.
Arahan Menteri Marwan ini masuk akal. Karena sebagian besar desa-desa kita memang memiliki infrastrukur yang masih timpang.
Yang penting, jangan sampai desa-desa menjadi latah. Asal membangun. Untuk itu, organisasi desa harus benar-benar dibenahi. Sehingga, infrastrurktur yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan. Organisasi desa harus benar-benar mampu merumuskan apa yang dibutuhkan.
Selama ini, infrastruktur dibangun berdasarkan apa yang ‘diinginkan’. Akibatnya, setelah dibangun, ternyata tidak digunakan. Kalau yang dibangun adalah apa yang dibutuhkan, maka begitu selesai, langsung dimanfaatkan, digunakan.
Implikasinya, para kontraktorpun tidak membangun proyeknya asal-asalan. Karena jika apa yang dibangun tidak bisa dimanfaatkan atau cepat rusak, maka kontraktor itu akan diteriaki warga!








