PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala UPTD Pusat Kesehatan Hewan atau Puskeswan Kota Palangka Raya, drh Eko Hari Yuwono mengakui bahwa masih banyak hewan penular rabies atau HPR yang terlantar di Kota Palangka Raya.

"Kita masih menemukan HPR-HPR liar ya, di pasar-pasar itu ada anjing dan kucing terlantar, masih ada masyarakat yang membuang binatang peliharaannya. Ketika sudah banyak, kadang-kadang ada yang dibuang, itu kasian sebenarnya," kata drh Eko pada Kamis, 21 Juli 2022.

Menurut drh Eko, populasi HPR di Kota Cantik ini kan mencapai 9.000 hingga 10.000 ekor per tahun, sementara vaksinasi rabies yang pihaknya lakukan setiap tahunnya mencapai 7.000 sampai 8.000 ekor.

"Cuma memang untuk ketentuan animal welfare saat ini tidak boleh kita melakukan euthanasia atau pembasmian HPR, disebar racun misalnya itu tidak boleh," tutur drh Eko lagi menanggapi kemungkinan adanya pembasmian terhadap HPR terlantar.

Maka dari itu, menurut Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia atau PDHI Provinsi Kalteng ini, yang paling penting dan utama ialah tanggung jawab dari masyarakat untuk memelihara HPR itu harus bijak.

--page

"Masyarakat kalau memelihara HPR itu ya bijak. Kalau mampunya hanya 1 atau 2 ekor ya sudah segitu saja, bagaimana kontrol populasinya untuk tidak dikawinkan misalnya steril dan sebagainya," tuturnya lagi.

Hal ini menurutnya akan mampu menekan populasi sehingga tidak banyak lagi hewan yang terlantar lantaran dibuang pemiliknya.

"memang di Kota Palangka Raya saat ini sudah banyak masyarakat yang peduli terhadap hewan anjing maupun kucing melalui dog rescue, cat rescue seperti itu sudah banyak membantu Pemerintah Kota juga dan membantu hewan-hewan yang terlantar. Namun itupun populasi HPR dan jumlah pecinta hewan tidak sebanding, makanya harus ada tanggung jawab juga dari masyarakat pemelihara HPR," jelasnya. (TESTI PRISCILLA/B-7)