SEBANYAK 10 kepala keluarga (sebelumnya disebut 13 kepala keluarga) di RT 04, Desa Kartamulya, Kecamatan Sukamara, Kabupaten Sukamara, yang dicurigai memiliki kaitan dengan organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) terdata berasal dari daerah berbeda.
Berdasarkan data yang diperoleh Borneonews dari Ketua RT 04, Desa Kartamulya, Pisif, sebanyak 10 KK itu berasal dari Jakarta, Surabaya, Tangerang, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Karangayar, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Brebes, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten Magelang.
Mereka tinggal dan menetap di RT 04, Desa Kartamulya, baru sekitar enam bulan. Total anggota keluarga dari 10 KK tersebut sebanyak 39 orang. Terdiri dari 22 anak, dan 17 dewasa.
Kartu keluarga ke-10 KK itu sudah diterima Ketua RT 04 sejak mereka mulai membangun rumah di Desa Kartamulya.
Rumah yang menjadi tempat tinggal 39 orang tersebut tergolong sederhana. Rumah dibangun berbahan dasar kayu dan hanya berlantai tanah.
Pekarangan di sekitar rumah dijadikan lahan bercocok tanam. Jenis tanaman yang dibudidayakan di antaranya cabai, jagung, dan kacang-kacangan.
Ketua RT 04 mengatakan, tanah yang dikelola 10 KK itu dibeli dari warga Desa Kartamulya bernama Isur. “Tanah itu dibeli dari warga yang bernama Isur. Mereka membeli tanah tersebut sebanyak dua kapling,” ucap Pisif.
Sejak 10 KK tersebut mendirikan rumah di kawasan itu, Pisif mengaku belum pernah mengunjungi mereka. Demikian pula sebaliknya. Pisif juga tidak menaruh curiga.
Hal itu tidak lepas dari lokasi tempat tinggal 10 KK tersebut yang tergolong cukup jauh dari kawasan permukiman padat penduduk. Diperkirakan berjarak sekitar 120 meter.
Selalu menolak
Sementara itu, seorang murid sekolah dasar yang namanya dirahasiakan, mengaku sering bermain ke tempat bermukin 10 KK tersebut dan bergaul dengan anak-anak di sana.
Namun, saat anak-anak itu diajak bermain ke permukiman penduduk lokal, mereka selalu menolak. “Kami sering main ke tempat anak di sana kerena di sana banyak anak-anaknya. Tapi mereka tidak mau diajak main ke rumah kami,” ucap bocah itu. (B-3)


