KAPOLRES Palangka Raya AKBP Jukiman Situmorang memastikan jika keberadaan Gafatar yang bermarkas di Jalan Pramuka, Tjilik Riwut Km 16 sudah tidak aktif sejak pernyataan pembubaran diri pada Jumat (5/6/2015) lalu. Perubahan nama menjadi kelompok tani Barigas Tata Usanang juga disebutnya bukan sekedar ganji baju semata.
“Faktanya mereka fokus di pertanian. Itu adalah fakta yang mereka tunjukkan,” cetus Jukiman seusai melakukan diskusi di lokasi pertanian, Kamis (14/1/2016).
Namun demikian, lanjut Kapolres, ada langkah-langkah yang akan mereka lakukan terkait hal-hal yang bersifat sensitif. Ini berkaitan dari sisi keyakinan agama. “Tentunya langkahnya harus tepat. Tidak cuma kepolisian, tapi juga akan melibatkan para tokoh baik agama atau kementerian agama,” ungkapnya.
Dari hasil diskusi termasuk melihat fakta perkebunan yang ada, Kapolres menyebut mengubah lahan gambut menjadi lahan produktif dapat mendongkrak kehidupan untuk menuju kehidupan yang lebih sejahtera.
Terkait apakah mereka ada hubungannya dengan dr Rica yang ditemukan di Pangkalan Bun beberapa waktu lalu, Kapolres memastikan tidak ada.
Alasan bergabung
Sementara itu, Nehemia B Garang, pemilik tanah sekitar 160 hektar di Jalan Pramuka, Tjilik Riwut Km 16 atau yang kini sebagian digarap oleh tiga kelompok tani yang semuanya merupakan bekas anggota Organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) memastikan semuanya tidak ada kaitannya dengan Gafatar.
Menurutnya, sejak 2014 mulai tahap penggarapan, sebagian khususnya kelompok tani Barigas Tata Usanang memang tergabung dalam Gafatar.
“Tapi awalnya saya tidak tahu. Setelah satu tahun bergaul, baru tahu itu pun saya tidak paham apa itu Gafatar,” ungkap Garang kepada Borneonews, Kamis (14/1/2016).
Ketua Gapoktan Berkah Mandiri Gemilang Rasyidi menyebut bergabung dengan Gafatar lantaran rasa gotong royong maupun rasa kebersamaan di negeri ini telah memudar.
“Atas dasar itu, kita berkumpul melakukan beberapa kegiatan sosial, kebersihan lingkungan dan ilmu pembelajaran anak-anak,” beber lelaki kelahiran Indramayu.
Selanjutnya, Lutfi Candra, asal Kota Malang menegaskan, Gafatar tidak ada pelajaran yang berkaitan dengan agama. Masalah ibadah atau tidak, dia menyebut hak masing-masing.
“Kita (Gafatar) murni organisasi sosial. Tidak bergerak dibidang agama tapi murni sosial. Gafatar sekarang sudah bubar. Jadi sekarang hanya bertani. Saya mundur karena mengikuti aturan,” tuturnya. (BY/B-12)


