Di Kabupaten Kotawa-ringin Barat (Kobar), Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) bahkan telah terdeteksi aktif sejak 2013. Pada 2014, Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindung-an Masyarakat (Bakesbangpolinmas) Kobar, Mudelan, mengaku pernah disambangi tiga orang berjubah serba hitam.
Tiga orang itu terang-terangan mengaku dari Gafatar. Mereka meminta agar Kesbangpolinmas memberikan izin untuk melakukan aktivitas di sektor pertanian dengan membawa bendera Gafatar.
Menurut Mudelan, mereka berniat membangun komunitas pertanian dengan tujuan agar dapat meningkat produktivitasnya. “Namun, mereka tidak kami berikan rekomendasi karena organisasi mereka masih dilarang,” tuturnya, Selasa (12/1/2015).
Pada 2014, Forum Komunikasi Intelijen Daerah (Forkominda) Kobar mendapat informasi dari Disdukcapil telah terjadi eksodus sekitar 20 kepala keluarga (KK) dari Solo, Jawa Tengah, ke Pang-kalan Bun. Eksistensi mereka teridentifikasi berada di Jalan Kawitan, Kelurahan Sidorejo. Namun saat diinvestigasi, ke-20 KK ini tidak ditemui keberadaannya.
“Beberapa pekan kemudian Disdukcapil kembali memberikan informasi ada permintaan surat pindah dari 20 KK ini ke Kabupaten Sukamara dan Lamandau,” beber Mudelan.
Berang disebut Gafatar
Kembali ke Palangka Raya, terus-menerus dituding sebagai kedok Gafatar, para pengurusnya lantas berang. Mereka dengan kompak menolak jika Barigas Tata Usanang adalah metamorfosis Gafatar.
“Nama kelompok tani tidak ada kaitannya dengan nama Gafatar. Gafatar sudah bubar. Kalau ada yang mengatakan Gafatar, silahkan tangkap. Kelompok tani ini kita beri nama Barigas Tata Usanang yang artinya ‘kita sehat sejahtera’,” cetus Penasihat Kelompok Tani, Nehenia B Garang, yang sebelumnya di Gafatar juga menduduki jabatan sama.
Sementara itu, berdasarkan riset dari peneliti Puslitbang Kehidupan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, Abdul Jamil Wahab, pimpinan Gafatar yang pernah mengaku sebagai nabi dan mendapat wahyu di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yaitu Ahmad Musadeq, menyebut bahwa era 2015-2016 merupakan masa hijrah. Hal ini didasarkan pada fakta organisasi mereka terus-menerus diterpa badai penolakan dari masyarakat.
Pulau Kalimantan pun disebut sebagai tempat awal mula yang baru. Bahkan, dalam satu dokumen ditemukan angka Rp4 miliar lebih untuk menampung seluruh anggota di Kalimantan.
Menurut penelitian Abdul Jamil, Ahmad Musadeq memilih Kalimantan sebagai lokasi penyebaran akidah atau keyakinan Millah Abraham karena di masa mendatang Pulau Jawa dinilai bakal lebih cepat tenggelam dibanding Pulau Kalimantan. “Idenya masuk akal karena dikaitkan dengan isu pemanasan global,” ungkap Abdul Jamil.
Sebagai catatan, Gafatar meyakini Millah Abraham sebagai solusi dunia akhirat. Pesan utama dari Millah Abraham adalah secara tegas tidak mengakui lagi agama mainstream seperti Islam, Kristen, dan Yahudi yang mereka nilai selalu gaduh.
Oleh sebab itu, Gafatar berniat mengembalikan akidah seperti di zaman bapak agama samawi, Nabi Ibrahim. Dalam kehidupan sehari-hari, rukun iman maupun rukun Islam menjadi tidak wajib lagi. (B-12)


