Sebanyak 26 orang terkapar dalam sebuah insiden baku tembak dan ledakan bom atau granat, Kamis (14/1/2016) mulai sekitar pukul 10.50 WIB hingga lewat tengah hari. Tujuh di antaranya tewas dan 19 orang luka-luka dalam peristiwa yang berlangsung sengit di sekitar Gedung Plasa Sarinah, Jalan MH Thamrin, jakarta Pusat.
Lokasi insiden itu hanya berjarak sekitar dua kilometer dari Istana Negara, sebagai jantung pemerintahan dan ibu kota Indonesia. Namun, pada saat peristiwa itu meletus, Presiden Joko Widodo sedang kunjungan kerja ke Cirebon, Jawa Barat.
“Termasuk dalam 26 korban itu, lima polisi luka berat,” ungkap Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Anton Charliyan.
Di antara tujuh yang tewas, menurut Anton, lima orang adalah teroris. ‘’Dua orang (teroris) tewas akibat bom bunuh diri dan tiga lainnya tewas setelah dilumpuhkan polisi,” katanya.
Malam harinya, Tim Disaster Victim Identification (DVI) merilis daftar lima dari tujuh korban tewas. Mereka adalah Ahmad Muhazad (26 tahun), warga Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat; Sugito (43), warga Purwasari,
Kerawang, Jawa Barat; Muhamad Ali (40), warga Kampung Sanggrahan, Kembangan, Jakarta; Amir Qali (66), warga Kanada; dan Dian Juni Kurniadi, warga Jalan Jend Sudirman kav 18 Jakarta dan Kotawaringin, Kalimantan Tengah.
Dua orang tewas lainnya, sampai berita ini ditulis, belum teridentifikasi. Termasuk, dikabarkan ada seorang wanita yang ikut menjadi korban ledakan di dekat Pos Polantas Sarinah.
Tidak kecolongan
Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Luhut Binsar Pandjaitan mengaku pemerintah sudah mendapat informasi intelijen soal kemungkinan adanya ancaman serangan teroris pada Desember 2015. Kelompok teroris menyebutnya sebagai ‘orkestra.’
“Kami sudah dapat informasi intelijen dari Desember bahwa akan ada oskestra di Asia Tenggara ini. Dan, polisi sudah bekerja dengan sangat keras,” ucap Luhut di Kantor Presiden sambil menolak jika pemerintah disebut kecolongan.
(ANT/MI/B-1)








