HEBOH yang ditumbulkan atas hilangnya dr Rica Trihandayani telah mampu menjadi letupan emosi publik. Begitu hilangnya dr Rica bersama anaknya yang masih balita itu, maka publik segera tersadarkan bahwa sanak-keluarga mereka juga bisa hilang. Atau, banyak pula anggota keluarga yang menghilangkan diri dengan acara memutus komunikasi dengan keluarga.
Modus menghilangkan diri dengan dalih menuntut ilmu, dengan dalih menjalankan perintah agama, dengan dalih mencari kerja, sebenarnya sudah kuno. Sudah kuno!
Itulah modus yang digunakan jaringan aliran dan paham sesat yang menyebut diri Negara Islam Indonesia (NII) sejak puluhan tahun silam. Beberapa tahun silam NII malah merekrut pengikut bukan hanya memutus hubungan dengan keluarga, tetapi juga menyerahkan sejumlah uang. Setiap anggota/pengikut yang baru-bergabung, dijadikan mesin uang.
Apa yang kini terjadi, juga sama saja. Dengan dalih menjalankan syariah agama, maka seseorang, bahkan bersama keluarganya, menghilangkan diri. Caranya itu tadi, memutus hubungan dengan keluarga. Yaitu meninggalkan rumah/keluarga dan tidak lagi mengaktifkan nomor telopon seluler mereka.
Sekarang, banyak warga melaporkan anggota keluarga mereka yang hilang ke pihak berwajib. Sudah pasti, mereka berharap bisa menemukan kembali anggota keluarga mereka itu. Sudah tentu pula, kitapun berharap data-laporan itu jangan hanya ditumpuk atau disimpan di laci petugas.
Di sisi lain, saat ini banyak lokasi-lokasi domisili (lokalisasi) kaum Gafatar telah teridentifikasi. Mestinya, para petugas antardaerah segera berkoordinasi. Kaum Gafatar yang melakukan migrasi, dari Pulau Jawa ke luar Pulau Jawa, segera didata, diteliti, dan dicermati.
Jika dari Yogyakarta, misalnya, petugas mendapat 17 laporan orang hilang, segera saja dicocokkan dengan penghuni lokalisasi kaum Gafatar. Polisi, intelijen, bahkan petugas Disdukcapil sekalipun dengan mudah melakukan pendataan atas warga baru yang melokalisasi diri di daerah mereka. Ini soal sederhana, yaitu soal migrasi penduduk.
Sebagai contoh, petugas dari Sukamara, Lamandau, Kapuas atau Pulang Pisau, hendaknya mendata secara lengkap para pemukim Gafatar. Lalu data itu di-share ke petugas yang mendapat laporan orang hilang.
Dengan mencocokkan asal-usul mereka, dengan mudah pula kita menemukan orang yang dilaporkan oleh anggota keluarganya sebagai orang hilang tadi. Jika data cocok, dengan teknologi zaman sekarang, dalam hitungan menit akan dengan mudah menemukan orang hilang itu. Nah, para petugas, selamat bertugas!








