BORNEONEWS, Makassar - Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan (Lalitbang) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Pusat Muhammad Rizal Martua Damanik mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi capaian angka prevalensi stunting pada akhir 2022.
"Kita akan melakukan evaluasi akhir tahun, kalau kemarin hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 24,4 persen prevalensi stunting di Indonesia, maka nanti di akhir tahun 2022 akan dilakukan evaluasi kembali berdasarkan data-data yang ada," kata Muhammad Rizal disela peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-29 tingkat Provinsi Sulsel di Makassar, Kamis.
Dia mengatakan, dengan evaluasi tersebut akan diketahui seberapa jauh prestasi yang sudah dicapai dalam upaya penurunan angka prevalensi stunting di lapangan. Namun, lanjut dia, sejauh ini capaian dari laporan yang ada semuanya masih berjalan sesuai dengan rencana. Karena itu, perlu terus memotivasi pelaksana penurunan stunting.
"Apalagi karena stunting ini kan isu baru sebelumnya tidak ada, sehingga masih perlu pemahaman di lapangan tentang apa dan bagaimana itu stunting," katanya.
Sementara mengenai Kampung Keluarga Berkualitas (KB), Muhammad Rizal mengatakan, itu salah satu strategi yang dilakukan dengan pembentukan kampung KB dan sekaligus akan terbentuk keluarga berkualitas dan di situ ada rumah data.
--page
Menurut dia, Kampung KB yang juga kampung pemantauan stunting, akan ditelusuri siapa saja keluarga yang berisiko stunting secara nasional. Dengan cara itu pula akan memudahkan BKKBN perwakilan untuk memonitor perkembangan Kampung KB.
"Dengan semua upaya itu, kami optimistis target 2024 untuk menurunkan stunting secara nasional hingga 14 persen akan tercapai," ujarnya.
ANTARA









